hadisetyono

Posts Tagged ‘presiden ketujuh’

Kisah Bunda Mariam yang mengandung Nabi Isa as dan analoginya dengan kelahiran satrio piningit

In kitab musasar jayabaya on February 4, 2010 at 5:22 am

Kisah Bunda Mariam yang mengandung Nabi Isa as
dan analoginya dengan kelahiran satrio piningit


Satrio piningit merupakan sosok pemimpin yang mencerminkan sosok imam mahdi dan Nab isa as di masa mendatang. Tidak adanya imam mahdi dan Nabi isa as adalah suatu keniscayaan ketiadaanya sosok satrio piningit. sosok satrio piningit adalah sosok yang dicari-cari oleh seluruh warga Indonesia untuk memimpin bangsa ini keluar dari keterpurukan. Pada kitab injil dapat ditemukan ayat bahwa satrio piningit disebut dengan the comforter. Sosok ini yang memimpin bangsa dengan segala tindak-tanduknya untuk membuat suasana menjadi nyaman dan layak dinikmati sebagai kehidupan yang idealis. pada ayat yang lainnya disebutkan bahwa sosok ini adalah cerminan dari sosok nabi isa as. adanya sosok satrio piningit karena adanya doa yang tulus dari nabi isa untuk dilahirkan disisi Tuhan sebagai tokoh penyelamat atau the chosen one atau sang avatar, sebelum kedatangan yang kedua dari nabi isa.

Kita bisa mengetahui dari sejarah bagaimana perjuangan bunda maria mengandung Nabi isa dalam buaian dan ditempatkan secara terpencil dalam lindungan para malaikat yang diutus Tuhan.


Dan ceritakanlah  Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Maryam 19:16)
maka ia mengadakan tabir  dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami  kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya  manusia yang sempurna. (Maryam 19:17)
Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (Maryam 19:18)
Ia  berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.(Maryam 19:19)
Maryam berkata:  “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan  seorang pezina!”(Maryam 19:20)
Jibril berkata: “Demikianlah”.  Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.(Maryam 19:21)
Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.
(Maryam 19:22)

Dari ayat-ayat di atas, nampak nyata bahwa perjuangan Mariam dapat diidentikkan dengan perjuangan seorang akhwat yang akan melahirkan tokoh satrio piningit di Indonesia. Tokoh ini adalah cerminan dari sosok Nabi Isa dengan karakteristiknya menyerupai tokoh Nabi isa. Bunda mariam adalah ibunda bani israel, demikian juga perjuangan seorang akhwat yang tengah mengandung bayi satrio piningit. Akhwat ini tidak mengandung secara fisik, melainkan mengandung secara metafora. Ini adalah hukum sunatullah yang berlaku di Indonesia saat ini. Adanya kehidupan yang penuh kesucian dari Nabi Isa masa lampau, juga dipercaya menjadi cerminan dari kehidupan satrio piningit saat ini. Buah kehidupan israel masa lampau terjadi di Indonesia. Indonesia dijanjikan sebagai buah kehidupan israel saat ini.

Kisah cinta satrio piningit dan akhwat M

Adanya seorang akhwat yang dipercaya cerminan dari bunda mariam, menjadikan dirinya sebagai ibu negara kerajaan israel yang baru yaitu di Indonesia. Kehidupan berbangsa saat ini dipimpin oleh satrio piningit yang sejatinya adalah suami dari akhwat M yang merupakan cerminan dari bunda mariam. Ketika masa perkenalan dengan satrio piningit, akhwat M memencilkan diri ke arah timur kemudian ke arah barat karena memendam rindu kepada satrio piningit, namun akan dikucilkan oleh keluarganya jika jadi menikah dengan satrio piningit. Akhirnya akhwat M membuat tabir dengan adanya halangan pertemuan dengan manusia lain. Akhirnya malaikat melindungi akhwat M ini, demikian pula tokoh satrio piningit dilindungi oleh malaikat. Satrio piningit adalah sosok manusia sempurna layaknya malaikat yang diutus oleh Tuhan. Selain itu satrio piningit adalah sosok laki-laki suci yang dilindungi kesuciannya oleh Allah. Namun karena di dunia ini banyak tersebar tabir-tabir dan jaring-jaring kehidupan yang menghalangi keduanya untuk bertemu dan melangsungkan kehidupan di tahap yang lebih lanjut, akhirnya keduanya hanya bisa bertatap muka secara tidak langsung dan saling berkomunikasi dengan media komunikasi yang tersebar di muka bumi. Akhirnya secara metafora, akhwat ini dikatakan mengandung benih kasih satrio piningit yang dipisahkan oleh tabir-tabir dimuka bumi. Namun cinta mereka berdua tak lekang dimakan zaman, dan akan senantiasa menghiasi kehidupan berbangsa di Indonesia.

Ekonometrik dari akhwat M

Dari sudut pandang kacamata ekonomis, akhwat M ini bernilai begitu tinggi, layaknya seorang ibu negara. Sebut saja ibu negara yang pernah memimpin bangsa yaitu ibu fatmawati, ibu tien soeharto, ibu Megawati Soekarnoputri, dan Ibu Ani Yudhoyono. Bahkan lebih mahal lagi karena diidentikkan dengan bunda mariam yang merupakan ibu dari bangsa israel.
Kita akan menghitung nilai rupiah dari akhwat M ini dan menkonversikannya ke benda-benda di negara Indonesia. Sebut saja sebuah fungsi yang diambil dari ayat-ayat suci di Al-Quran:

Hai saudara perempuan Harun , ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, (Maryam 19:28)

Dari ayat di atas dapatlah dilihat bahwa ayah dari akhwat M ini bukanlah seorang laki-laki jahat dan dari golongan baik-baik. Misalkan akhwat M menghendaki sebuah mobil Ford, maka negara ini berhutang sebesar mobil ford kepada satrio piningit melalui akhwat M. Mobil ford ini yang akan dimiliki oleh satrio piningit dan menjadi modal bagi perjuangan selanjutnya. Demikian seterusnya sampai harta amanah dikuasai oleh satrio piningit dan keluarganya melalui akhwat M dan dibagikan bagi yang berkenan dan membutuhkan lewat tangan satrio piningit atau imam mahdi Indonesia.

“Salah satu tanda Imam Mahdi ialah dia amat tegas terhadap orang bawahannya, harta bendanya melimpah ruah dan amat pemaaf kepada para hamba (pekerja bawahan).” (perkataan tabiin A. Imam Tawus Ra)

Imam Mahdi memang diutus oleh Allah untuk memberkatkan harta benda sehingga melimpah ruah di sana-sini, akhirnya orang ramai jemu melihat harta benda yang bertimbun-timbun di sana-sini, sedangkan tidak seorang pun yang mahu membawanya pulang atau ambil peduli tentangnya.
Imam Mahdi juga sangat berbelas kasihan kepada golongan hamba, pekerja bawahan dan orang awam. Mereka ini sentiasa mendapat bantuan dan perhatian berat daripada Imam Mahdi sendiri. Mereka selalu dibantu, ditolong, didoakan dan dihiburkan oleh Imam Mahdi dari semasa ke semasa.
Akhirnya setiap orang merasakan mereka sentiasa diambil berat dan diperhatikan oleh Imam Mahdi, pemimpin agung mereka. Semuanya amat berpuas hati dengan pemerintahan Imam Mahdi yang amat adil lagi saksama itu.

Advertisements

Pemimpin Baru

In GlobalVillage, indonesia emas, kitab musasar jayabaya, pemilu 2009, Pemuda Bani Tamim, religius, Satria Piningit, Satrio Pinandito, Siapakah Imam Mahdi, uga siliwangi on July 15, 2009 at 5:36 am

 

kaisar Indonesia

kaisar Indonesia

 

 

Kita paham bahwa Indonesia sedang dalam proses persalinan massal. Para pemimpin-pemimpin baru sedang dilahirkan. Mereka yang dalam proses perebutan kekuasaan tahun-tahun ini akan digantikan oleh orang-orang yang sama sekali baru dalam satu dekade ke depan. Zaman baru telah datang dan tak bisa dihindari. Zaman baru meminta pemimpin-pemimpin baru. Zaman baru telah datang dan tak bisa dihindari. Zaman baru meminta pemimpin-pemimpin baru. Tentang pemimpin baru, John Scully, mantan CEO Apple Computer, pernah mengatakan bahwa, ”Para pemimpin baru menghadapi ujian baru, misalnya bagaimana dia dapat memimpin orang yang tidak pernah memberi laporan kepadanya-orang-orang yang berada di organisasi lain, di Jepang dan Eropa, bahkan para kompetitor.” Bagaimana Anda dapat memimpin di lingkungan yang padat ide dan berisikan jaringan-jaringan yang interdependen ini? Ini memerlukan seperangkat keterampilan yang sama sekali baru, yang berbasis pada ide-ide, orang-orang, dan nilai-nilai. Para pemimpin tradisional mengalami kesulitan untuk menerangkan apa yang sedang terjadi di dunia, karena mereka mendasarkan penjelasannya pada pengalaman. Pernyataan singkat di atas sarat makna. Mari kita telusuri beberapa di antaranya. Pertama, kepemimpinan yang bertumpu semata-mata pada pengalaman tidak lagi dapat diandalkan. Kita tidak sedang bergerak ke belakang, ke tempat pengalaman itu terjadi (terra firma). Kita, suka atau tidak suka, sedang bergerak ke depan, ke suatu tempat yang bahkan belum pernah kita datangi (terra incognita). Itu sebabnya kita tidak bisa menjelaskan tempat baru itu dengan berkaca pada pengalaman. Dia tidak berada dalam pengalaman kita. Dia justru berada di ruang kemungkinan-kemungkinan, di ruang-ruang maya yang merupakan proyeksi dari pikiran-pikiran manusia. Kedua, kalau pengalaman tidak bisa dijadikan tumpuan utama, ke mana para pemimpin baru itu berpaling? Jawabnya tegas: kepada ide-ide, orang-orang, dan nilai-nilai. Pemimpin baru bergaul dengan dunia maya, dunia virtual, di mana berbagai macam gagasan berseliweran untuk saling diapresiasi dan saling dikritisi sekaligus. Tembok-tembok birokrasi diluluhlantakkan dan suasana formal berubah menjadi informal dan kerap personal. Berdasarkan nilai-nilai tertentu, orang-orang yang secara fisik dekat menjadi berjauhan; sementara mereka yang secara fisik berjauhan menjadi berdekatan. Perekat dan magnetnya bukan hierarki organisasi yang struktural, melainkan kesamaan nilai-nilai yang dianut. Cermin Obama Barack Obama mungkin menjadi contoh paling populer untuk menegaskan hal ini. Dia datang dengan gagasan-gagasan, dengan orang-orang muda yang bergairah, dan menawarkan nilai-nilai yang diyakini lebih baik dari para pemimpin tradisional. Kita tidak perlu menjadi ahli ilmu politik lebih dulu untuk memahami, bahwa kemenangan Obama tidak berbasiskan pengalaman, tetapi lebih berbasiskan pada gagasan-gagasan segar di tengah pasar pengalaman yang kumuh oleh kepongahan. Obama melakukan hal yang benar (doing the right thing), berorientasi jangka panjang, bercumbu dengan masa depan, menginovasi dan mengembangkan, bertanya ”apa” dan ”mengapa”, mengatur irama dan arah bersama. Ia tidak tampil sebagai ”pemberi perintah”, tetapi lebih sebagai ”penjual gagasan”. Ketiga, ujian bagi para pemimpin baru adalah bagaimana ia menembus batas-batas yang ada untuk mengembangkan pengaruhnya. Bagaimana seorang pemimpin perusahaan memengaruhi tidak saja pegawai, dan konsumennya, tetapi juga mereka yang di luar perusahaannya, pegawai di organisasi pemasok, bahkan pegawai di organisasi kompetitornya. Atau bagaimana pemimpin sebuah partai politik (sebagai organisasi) memengaruhi tidak saja konstituennya sendiri, tetapi juga konstituen dari parta politik yang lain. Bukankah fenomena koalisi-koalisi antarpartai merupakan ujian yang sangat jelas mengenai kiprah para pemimpin baru? Bukankah ujian semacam ini telah membuat para pemimpin tradisional kalang kabut dalam menentukan posisinya sendiri? Konstituen dari partai-partai yang lemah kepemimpinannya, tampak kucar-kacir tersedot magnet dari para pemimpin di luar partai sendiri. Patut diduga fenomena ini masih akan terus berlangsung sampai satu dekade mendatang; sampai lahir pemimpin-pemimpin baru yang lolos ujian. Keempat, karena pemimpin baru menghadapi lingkungan yang padat ide dan berisikan jaringan-jaringan yang interdependen, dia tidak lagi sekadar main perintah seperti komandan upacara. Dia juga tidak memiliki ilusi berlebihan untuk bisa mengontrol semua hal bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, para pemimpin baru sangat sadar bahwa dia berkewajiban untuk menginspirasi konstituennya dan mengembangkan kepemimpinan di segala level organisasi. Pemimpin baru percaya pada konsep the leader in you dan the leader in us. Itu sebabnya pemimpin baru lebih berkutat pada soal-soal visi dan nilai-nilai bersama. Jika para pemimpin tradisional mengambil posisi sebagai komandan upacara (mengatur barisan yang seragam), para pemimpin baru memilih posisi sebagai pemandu orkestra (mengatur orang-orang dengan fungsi dan peran yang beraneka ragam, sesuai dengan jenis alat musik yang dipegangnya). Keempat hal di atas memberi sedikit gambaran kepada kita tentang sosok pemimpin baru untuk zaman ini: pertama, karena pengalaman tidak bisa jadi acuan, maka senioritas dan usia tidak bisa lagi dijadikan isu untuk mengukur kecakapan seorang pemimpin. Kaum muda mendapatkan peluang untuk memainkan peran strategis mereka tanpa harus menunggu restu orang tua; kedua, pemimpin baru haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai luhur-termasuk nasionalisme-dan mampu berpikir kreatif, serta cakap mengomunikasikan gagasan kepada publik, baik tertulis maupun lisan; ketiga, mampu bertenggang rasa, toleran, dan solider, apalagi dalam konteks masyarakat yang multikultur seperti Indonesia. Indonesia sedang dalam proses persalinan massal. Mari kita songsong para pemimpin baru. Selamat datang pemimpin!