hadisetyono

Bung Karno: Abdikan Jiwa Ragamu untuk Kemerdekaan

In kitab musasar jayabaya on December 9, 2009 at 9:49 am

Bung Karno: Abdikan Jiwa Ragamu untuk Kemerdekaan
 Biasa +2 Yuen Yuan

Soekarno and the Girl

Senin, 17 Agu ’09 18:00

Saudara-saudara semuanya mengentahui bahwa tatkala saya masih muda, amat muda sekali, saya miskin, dan oleh karena saya miskin, maka – demikianlah sering saya ucapkan – saya tinggalkan this material world. Dunia jasmani laksana saya tinggalkan, karena dunia jasmani ini tidak memberi hiburan dan kepuasan kepada saya, oleh karena miskin. Maka saya meninggalkan dunia jasmani ini dan saya masuk – kataku sering dalam pidato-pidato dan keterangan-keteranganku – ke dalam world of the mind. Saya meninggalkan dunia yang material ini, saya masuk ke dalam world of the mind, dunianya alam cipta, dunia khayal, dunia pikiran.

Dan sudah sering saya katakana bahwa di dalam world of the mind itu, disitu saya berjumpa dengan orang-orang besar dari segala bangsa dan segala negara. Di dalam world of the mind itu, saya berjumpa dengan nabi-nabi besar, di dalam wolrd of the mind itu, saya berjumpa dengan ahli falsafah – ahli falsafah yang besar, di dalam wolrd of the mind itu, saya berjumpa dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang besar dan di dalam world of the mind itu, saya berjumpa dengan pejoang-pejoang kemerdekaan yang berkaliber besar.

Nah, saya berjumpa dengan orang-orang besar ini, tegasnya, jelasnya, dari baca buku-buku. Salah satu pemimpin bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan, mengucapkan kalimat sebagai berikut : “the cause of the freedom is a deathless cause”. The cause of the freedom is a deathless cause. Sesudah saya baca kalimat itu dan saya renungkan kalimat itu, bukan saja saya tertarik kepada the cause of freedom bangsa saya sendiri dan bukan saja saya tertarik kepada the cause of freedom daripada seluruh umat manusia di dunia ini, saya ingin menyumbangkan diriku kepada deathless cause ini, deathless cause of my own people, deathless cause of all people on earth. Dan lantas saya mendapat keyakinan, bukan saja the cause of the freedom is a deathless cause, tetapi juga the service of freedom is a deathless service, pengabdian kepada perjuangan kemerdekaan, pengabdian kepada kemerdekaan, itupun tidak mengenal maut, tidak mengenal habis, pengabdian yang sungguh-sungguh pengabdian. Bukan service yang hanya lips service, tetapi service yang benar betul-betul masuk ke dalam jiwa, service yang betul-betul pengabdian, service yang demikian itu adalah salah satu deathless service.

Dan saya tertarik oleh saya punya pendapat sendiri itu. Pendapat pemimpin besar daripada bangsa yang saya sitir tadi berkata “the cause of the freedom is a deathless cause”. Saya berkata “not only the cause of the freedom is a deathless cause, but also the service of freedom is a deathless service”.
Dan saya, Saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan atau menawarkan diri saya sendiri dengan segala apa yang ada pada saya ini kepada service of freedom itu. Dan saya sadar sampai sekarang ini, the service of freedom is a deathless service, yang tidak mengenal habis, tidak mengenal akhir, tidak mengenal maut. Itu adalah urusan isi hati. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan ke dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan ke dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat kelahirannya, tapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang ke tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.

Dan saya beritahu kepada Saudra-saudara, menurut perasaanku sendiri, saya telah lebih daripada 35 tahun, hampir 40 tahun, dedicate myself to this service of freedom dan saya menghendaki agar supaya seluruh, seluruh rakyat Indonesia, masing-masing juga dedicate jiwa-raganya kepada service of freedom ini, oleh karena memang service of freedom ini, oleh karena service of freedom ini is a deathless service. Tetapi akhirnya segala sesuatu adalah di dalam tangan-Nya Tuhan. Apakah Tuhan memberi saya dedicate myself, my all to this service of freedom, itu adalah Tuhan punya urusan. Karena itu, maka saya terus, terus, terus, selalu memohon kepada Allah SWT agar saya diberi kesempatan untuk membuktikan menjalankan aku punya service of freedom ini. Tuhan yang menentukan, de mens wikt, God beslist, manusia bisa berkehendak macam-macam, Tuhan yang menentukan. Denujuab saya bersandaran kepada keputusan Tuhan itu, Saudara-saudara. Cuma saya juga dihadapan Tuhan berkata , “Ya Allah, ya Robbi, berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik, hidayat untuk dedicate myself to this great cause of freedom and to this great service of freedom”.
Beberapa patah kata pribadi Presiden Sukarno dalam penyampaian “Nawaksara”, dalam Sidang Istimewa MPRS, Jakarta, 22 Juni 1966 (disampaikan secara lisan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: