hadisetyono

Archive for June, 2009|Monthly archive page

Kiat Memilih Istri

In Baiti Jannati, indonesia emas, Pemuda Bani Tamim, religius, uga siliwangi on June 18, 2009 at 10:55 am

Kiat Memilih Istri

wanita muslimah

wanita muslimah

Dalam memilih isteri, Islam mengajarkan kepadakaum lelaki muslim ‎untuk memperhatikan dua hal esensial, yaitu: 1) silsilah keturunan ‎calon isteri, dan 2) lingkungan tempat wanita itu hidup, berikut sejauh mana ‎lingkungan tersebut berpengaruh pada kepribadiannya. Rasul Saw bersabda: Pandai-pandailah memilih calon isteri karena saudara isteri ‎akan menurunkan sifat dan karakternya pada anak kalian. Dalam pitutur lain Rasul Saw berujar: Pilihlah dengan benar wanita yang akan mengandung ‎anakmu karena unsur keturunan sangat berpengaruh pada anak. Rasulullah menganjurkan untuk memilih isteri dari keluarga yang ‎memiliki sifat-sifat terpuji, karena keluarga yang baik akan ‎membentuk karakter yang baik pula pada diri wanita tersebut.

‎Islam juga menekankan untuk memilih isteri dari lingkungan sosial ‎yang bersih, karena lingkungan yang baik akan memberikan ‎pengaruh yang baik pula kepada wanita tersebut. Sebaliknya, Islam ‎melarang kaum lelaki memilih isteri dari lingkungan yang ‎buruk. Dalam hadis disebutkan, bahwa Rasul Saw melarang ‎untuk mempersunting wanita cantik yang hidup di lingkungan yang ‎sesat. Beliau bersabda: Berhati-hatilah terhadap wanita cantik yang hidup di ‎lingkungan yang tidak baik. Ajaran Islam juga melarang laki-laki menikahi wanita pezina. Sabda Nabi: Jangan sekalipun kalian menikahi wanita yang terang-‎terangan berzina. Juga wanita yang tidak sehat secara mental dan psikologis. Sebab, dikhawatirkan anak yang akan ‎dilahirkannya akan mewarisi kegilaan ibunya. Ketika Rasul Saw ditanya, perihal menikahi wanita yang cacat mental, beliau menjawab: Jangan!

Ali bin Abi Thalib Ra mengingatkan kepada para pria Muslim untuk tidak menikahi wanita dungu, ‎karena dikhawatirkan anak yang bakal dilahirkannya akan mewarisi ‎kedunguannya. Selain itu, wanita dungu tidak akan mampu ‎mendidik anak dengan baik dan benar. Ali Ra berujar: Jangan sekalipun kalian mengawini wanita dungu karena ‎bergaul dengan wanita seperti itu merupakan petaka bagi seseorang ‎dan anak yang dilahirkan bakal tidak berguna. Tatkala salah seorang sahabat berkonsultasi kepada Rasul Saw perihal kriteria dasar calon istri, beliau menjawab tegas: Nilai keimanan dan loyalitas keagamaan harus dijadikan acuan utama memilih pendamping hidup. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa suatu hari, seseorang datang menemui ‎Rasul Saw dan meminta nasehat darinya tentang ‎perkawinan. Rasul saw bersabda: Pilihlah wanita yang loyal kepada agamanya, niscaya engkau ‎akan bahagia” (HR Muslim).

Memilih pesangan hidup harus memprioritaskan masalah agama di atas ‎harta dan kecantikan wanita. Karenanya Rasul Saw mengingatkan: Jika lelaki mengawini seorang wanita karena kecantikan ‎atau hartanya, ia tidak bakal mendapatkan apa yang ia cari itu. Tetapi bila ia ‎mengawininya karena agamanya, Allah pasti akan memberinya ‎kecantikan dan harta” (HR Turmudzi). Seorang pria harus memilih wanita salehah dan dari klan keluarga baik-baik untuk pendamping hidupnya, sebab wanita yang berasal dari keturunan yang baik dan dibesarkan di ‎lingkungan keluarga yang beriman, akan menjadi wanita yang taat ‎beragama. Wanita seperti inilah yang kelak jika bersuami dapat mendidik anak-anaknya ‎sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Para pria yang hendak menyunting wanita untuk pendamping hidupnya,  hendaknya menentukan pilihannya kepada wanita yang bisa mengantarkannya atau menjadi mitra hidupnya, untuk meraih kebahahiaan abadi di negeri akhirat (surga Allah), sebagaimana pitutur Rasul Saw: Jika wanita salat lima waktunya, berpuasa di bulannya, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, maka kelak akan dikatakan kepadanya:‘Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang kamu sukai’ (HR Ibnu Hibban dan Thabrani). Sebaliknya, hendaknya para lelaki tidak menikahi wanita jahat. Dalam sebuah riwayat dituturkan: Kejahatan seorang wanita jahat adalah seperti jahatnya seribu orang jahat dari kaum lelaki. Kebaikan seorang wanita yang salehah adalah sepadan dengan amal saleh tujuh puluh orang-orang shiddiqin.

Dalam sebuah riwayat ditandaskan, Rasul Saw bersabda tentang wanita yang digaransi (dijamin) masuk surga, yaitu: 1) Wanita yang memelihara dirinya, taat kepada Allah dan suami, subur (bisa mempunyai anak) serta sabar; 2) Menerima apa yang ada—pemberian suami—walaupun sedikit, dan bersifat pemalu; 3) Jika suaminya pergi, ia menjaga dirinya dan harta suaminya; 4) Wanita yang ditinggal mati suaminya, sedangkan ia mempunyai anak yang masih kecil-kecil lalu ia menahan dirinya, memelihara dan mendidik anak-anaknya, serta berbuat baik terhadap mereka dan tidak mau nikah lagi karena takut menyia-siakan mereka.  Rasul Saw juga mewartakan tentang wanita yang kelak menjadi penghuni neraka, yaitu: 1) Wanita yang jelek lisannya terhadap suami, jika suaminya pergi, ia tidak menjaga dirinya. Jika suaminya di rumah, ia menyakiti suaminya dengan ucapannya; 2) Wanita yang membebani suami (dengan tuntutan) yang suami tidak mampu melakukannya; 3) Wanita yang tidak menutup dirinya dari lelaki lain dan ia keluar dari rumahnya dengan berhias; 4) Wanita yang sama sekali tidak memiliki keinginan kecuali makan, minum, dan tidur. Ia tidak memiliki gairah untuk mengerjakan salat, untuk mentaati Allah Azza wa Jalla, mentaati Rasul, serta tidak mentaati suaminya. Maka jika ada wanita memiliki sifat-sifat tersebut, ia adalah wanita terlaknat, serta bakal menjadi penghuni neraka Allah, kecuali jika ia bertaubat.

Rasul Saw mewartakan karakteristik dasar wanita baik yang layak dijadikan mitra hidup, guna mengarungi bahtera kehidupan di alam wujud ini. Diantara karakter dasar pasangan hidup yang baik itu ialah:

Pertama: Menyejukkan hati apabila dipandang. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Umamah al-Bahiliy dituturkan: Bagi seorang Mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah, maka tidak ada sesuatu paling berguna bagi dirinya selain istri yang saleh, yaitu wanita yang taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, beramanah bila diberi janji, dan menjaga kehormatan dirinya dan suaminya ketika suaminya pergi (HR Ibnu Majah).

Kedua: Bisa dipercaya. Sa’ad bin Abi Waqas meriwayatkan, bahwasanya Rasul Saw bersabda: Ada tiga macam keberuntungan di dunia ini, yaitu istri yang salehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kuda yang penurut dan cepat larinya sehingga dapat membawa kamu menyusul temen-temanmu; rumah besar yang banyak didatangi tamu-tamu (HR Hakim).

Ketiga: Memendarkan nuansa teduh dan ketenangan pikir. Allah Azza wa Jalla mewartakan dalam Alquran: Di antara tanda kekuasaan-Nya yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya dan Dia menjadikan rasa cinta dan kasih sayang antara kamu. Sungguh di dalam hal yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) bagi kaum yang berpikir (QS al-Rum/30: 21).

Keempat: Menjadi motivator ibadah dan meneguhkan aqidah. Rasul Saw bersabda:  Barangsiapa diberi oleh Allah istri yang salehah, maka sesungguhnya ia telah diberi pertolongan oleh Allah meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah di dalam memelihara separuh lainnya (HR Thabrani dan Hakim).

Ajaran Islam memberi tuntunan terbaik kepada para lelaki di dalam menjatuhkan pilihannya kepada wanita yang hendak dijadikan pendamping hidup, agar pernikahannya membuahkan berkah hidup dan kehidupan dunia akhirat. Adapun kriteria wanita baik yang patut dijadikan istri, sebagaimana diajarkan Alquran dan Sunnah Nabi ialah:

1.      ‎Wanita yang memiliki rasa takut kepada Allah (bertakwa);

2.      ‎Wanita yang memiliki keimanan jernih kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik  maupun yang buruk;‎

3.      ‎Wanita yang tulus bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, ‎bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, ‎mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, ‎dan naik haji bagi yang mampu;‎

4.      ‎Wanita yang berkepribadian ihsanah, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, ‎jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah ‎melihat dirinya;‎

5.      ‎Wanita yang tulus ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakal kepada ‎Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap azab Allah, ‎mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas ‎segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang ‎diberikan kepadanya;‎

6.      ‎Wanita yang gemar membaca dan mendaras Alquran, serta berusaha memahami kandungan isinya, berzikir ‎mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan ‎berdoa kepada Allah semata;‎

7.      ‎Wanita yang tegak menghidupkan amar makruf dan nahi munkar pada keluarga maupun lingkungan ‎masyarakatnya;‎

8.      ‎Wanita yang teguh berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, ‎dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak ‎yang dia miliki;‎

9.      ‎Wanita yang senang menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang ‎memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian ‎kepada dirinya, dan memaafkan orang yang menzaliminya;‎

10.  ‎Wanita yang rajin berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, ‎menahan amarah dan memaafkan manusia;‎

11.  ‎Wanita yang senantiasa menegakkan sendi-sendi keadilan, serta berlaku adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh ‎makhluk;‎

12.  ‎Wanita yang eksis menjaga lisannya dari perkataan dusta, tidak bersaksi  maupun berjanji palsu dan tidak ‎menceritakan kejelekan orang lain (ghibah);

13.  ‎Wanita yang menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya;‎

14.  Wanita yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya, dan suaminya jika telah menikah;‎

15.  ‎Wanita yang suka menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat ‎terdekat dan terjauh.‎

Advertisements

Manakib Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi

In Pemuda Bani Tamim, religius, Satria Piningit, Satrio Pinandito, Siapakah Imam Mahdi on June 18, 2009 at 10:50 am

Manakib Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi

Habib Muhammad Idrus Al-Habsyi

Habib Muhammad Idrus Al-Habsyi

Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi atau nama lengkapnya Al-Habib Muhammad bin Idrus bin Muhammad bin Ahmad bin Ja’far bin Ahmad bin Zain Al-Habsyi, beliau lahir di kota Hauthah (khala’Rasyid) hadramaut pada tanggal 20 syawwal tahun 1265 H. Sebelum beliau lahir ayahnya Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib Idrus bin Muhammad Al-Habsyi telah berpergian ke Indonesia untuk berdakwah. Al-Habib Muhammad tidak sempat mengenal ayahnya bahkan tidak pernah melihatnya, karena ketika sang ayah wafat di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat beliau belum lahir. Adapun ibunya Syaikhah Salamah binti Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Semir (Sumair).

Status sebagai anak yatim tidak berpengaruh kepada terhadap diri beliau, karena ibunya dengan penuh kesabaran mendidiknya dan tidak menikah lagi. Di tambah lagi asuhan dan perhatian dari para pamannya, terutama Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Habsyi yang menjadi munshib Al-Habsyi di negerinya, beliau dibesarkan dalam didikan pamannya ini sehingga mengikuti jalan dan perilakunya.

Sebelum genap berusia tujuh tahun, beliau telah mulai mempelajariAl-Qur’an kepada mu’allim Ali Syuwa’i pada tempat pengajian umum di Hauthah. Kemudian beliau menghatamkannya pada Syaikh Ahmad Al-Baiti, munsyid di kubah datuknya, sayyidina Ahmad bin Zain Al-Habsyi. Dalam perjalanan menuntut ilmunya beliau mengerahkan seluruh segala kemampuannya untuk belajar baik ketika masih di Hauthah maupun di berbagai tempat lain di Hadramaut. Disebagian tempat beliau menetap dalam waktu lama dan di sebagian yang lain beliau hanya tinggal beberapa saat. Al-Ghorfah, Sewun, Tarim, Syibam dan Du’an adalah sebagian diantara kota-kota yang didatanginya.

Selain mempelajari Al-Qur’an, sejak kecil beliau juga belajar ilmu fiqih, hadits, tafsir, tasawwuf, nahwu, sharaf, dan sebagainya. Di dalam Qurrah al-‘Ain disebutkan, di antara kitab-kitab yang dibacanya pada pamannya, Al-Habib Sholeh dan pamannya yang lain Al-Habib Abdullah, adalah kitab Ar-Risalah Al-Jami’ah karya datuknya Al-Habib Ahmad bin Zain, Bidayah Al-Hidayah dan umdah as-Salik dalam fiqih, Al-Jurummiyah dan Al-Mutammimah dalam nahwu. Kepada gurunya Al-Habib Abdullah bin Thoha Al-Haddar Al-Haddad, beliau belajar membaca kitab Fathul-Mu’in, rujukan sangat penting dalam fiqih syafi’i.
Guru-gurunya yang lain dalam fiqih dan tasawwuf adalah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Al-Habib Idrus bin Umar  Al-Habsyi, Al-Habib Idrus bin Abdul Qadir bin Muhammad Al-Habsyi, Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Hasan bin Husein bin Ahmad Al-Haddad, dan lain-lain. Di antara semua gurunya yang menjadi syaikh fath (guru pembukanya) adalah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Sejak kecil beliau sering didoakan dan diilbas (dikenakan pakaian, yang tujuannya sebagai pengangkatan atau pengakuan) oleh para alim ulama. Muridnya, Al-Allamah As-Sayyid Abdullah bin Thahir Al-Haddad mengatakan dalam kitab qurrah Al-‘Ain bahwa, di antara yang mendoakan dan meng-ilbas-nya adalah Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr seorang ulama terkemuka. Banyak gurunya yang telah melihat kelebihannya sejak kecil. Mereka telah melihat tanda-tanda kewalian pada dirinya.
Tahun 1281 H, pada usia 16 tahun beliau menunaikan haji untuk pertama kalinya dengan menaiki kapal dagang yang menuju ke Jeddah. Setelah itu kembali ke negerinya, Hauthah. Tetapi hanya beberapa bulan berada di tengah-tengah keluarganya, setelah itu belaiu kembali lagi ke Hijaz untuk menunaikan haji yang kedua, setelah musim haji selesai beliau tidak pulang melainkan menetap di Haramain dan menimba ilmu kepada para ulama.
Di antara para gurunya di Haramain adalah sayyid Fadhl bin Alwi bin Alwi bin Muhammad bin Sahl maulad Dawileh (yang kemudian menjadi tokoh habaib di Turki, Al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti syafi’I di Makkah, Al-Allamah Sayyid Umar bin Abdullah Al-Jufri, dan Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-‘Azab, beliau juga mendalami tajwid kepada sayyid Muhammad An-Nuri.
Kemudian takdir Allah menentukan beliau untuk pergi ke India, tetapi karena hatinya merasa tak tenang tinggal disana akhirnya beliau menuju singapura dalam perjalannya di jawa. Selama beberapa tahun beliau tinggal di Jakarta menggeluti perdagangan di samping belajar kepada Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas, Al-Allamah Al-Habib  Umar bin Hasan Al-Jufri  dan sejumlah tokoh ulama lainnya.
Demikianlah terus berlanjut sampai Allah melimpahinya cahaya ilmu dan kewalian yang membuatnya terkenal dimana-mana, maka berdatanganlah orang-orang yang ingin belajar dan mendapatkan manfaat darinya dari berbagai tempat di antaranya Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar, Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Al-Habib Thahir bin Alwi Al-Haddad, Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf.
Ahklak dan budi pekertinya sangatlah baik, beliau adalah seorang yang pemurah dan berkasih sayang terhadap orang lain, apalagi kepada orang-orang yang lemah, apa-apa yang Allah berikan kepadanya tidak segan-segan beliau memberikannya kepada siapa saja yang mendatanginya, beliau seorang yang murah senyum, lemah lembut tutur katanya dan sangat baik sambutannya, itulah perangainya meneladani perangai datuknya, Nabi Muhammad SAW. Setiap orang yang duduk di sampingnya akan merasa bahwa dirinyalah yang paling dicintai dan dipilihnya sebagai sahabat karib.
Ayah bagi orang miskin
Apabila ada orang bertamu kepadanya, beliau selalu bertanya tentang hal-ihwal anak-anak dan cucu-cucu orang tersebut, demikian juga dengan tamu dari luar kota, beliau menyambutnya dengan ramah dan senang hati, bahkan apabila yang datang fakir miskin, beliau memberikan ongkos pulang disertai hadiah untuk anak-istrinya. Inilah kebiasaan selama hidupnya. Rumahnya selalu terbuka untuk para tamu dan pernah kosong dari mereka. Terlebih lagi fakir miskin yang tidak mempunyai penghasilan yang menentu mereka menginap dirumahnya.
Anak-anak yatim yang dipelihara olehnya menilainya lebih baik dari ayah-ayah mereka karena beliau menyamakan mereka dengan anak-anaknya sendiri dalam memberikan pakaian, makanan, minuman dan tempat tidur. Ketika  anak-anak yatim itu telah besar  beliau juga mengurus perkawinan mereka dam memberikan apa-apa yang mereka butuhkan. Tidak mengherankan apabila dikatakan bahwa beliau adalah ayah bagi anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Beliau pun sangat dicintai oleh masyarakat umum maupun kalangan khusus, beliau selalu mendamaikan pihak-pihak yang bertengkar walaupun masalahnya besar dan sulit dapat beliau selesaikan dengan baik. Di antara amal jariyahnya adalah pembangunan masjid di purwakarta, Masjid Ar-Raudhah di jombang, dan lain-lain. Beliau juga adalah perintis penyelenggaraan haul para wali Allah dan orang-orang sholeh. Dialah yang pertama kali mengadakan haul Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Thohir Al-Haddad yng terkenal di kota Tegal. Beliau juga banyak berziarah ke tempat bersejarah, makam para wali dan orang-orang sholeh dan kegiatan itu pula diikuti oleh khalayak ramai. Semasa hidupnya beliau rajin berdakwah ke beberapa daerah, dalam perjalanan dakwahnya beliau tidak pernah menginap di  hotel atau tempat penginapan lain, melainkan di rumah salah satu seorang habib.
Pada setiap hari kamis bulan Rabi’ul Awwal, beliau mengadakan pembacaan maulid Nabi seperti yang dilakukan oleh gurunya Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi di Sewun. Beliau melaksakannya di daerah jatiwangi dekat Cirebon. Lalu memindahkannya ke Bogor sampai timbul rintangan-rintangan dan fitnah dari orang-orang yang dengki. Kemudian beliau memindahkannya lagi ke Surabaya dengan bantuan kapten Arab dari keluarga Boubseith. Demikianlah hal itu berlangsung terus sampai beliau wafat. Sepeninggalnya yang meneruskan adalah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi di Jakarta di sekolah jamiat kheir, setelah meminta izin kepada para pengurusnya. Maulid ini berlangsung terus sejak tahun 1338 H/1920 M sampai tahun 1355 H/1936 M (17 tahun). Ketika Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi membangun masjidnya di Kwitang ia pun memindahkan gelaran maulid ke masjid itu pada tahun 1356 H/1937 M.
Menjelang wafatnya, Habib Muhammad menyampaikan wasiat, “Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu ingat kepada Allah SWT, semoga Dia menganugerahkan keberkahan kepada kalian dalam menegakkan agama terhadap istri, anak, dan para pembantu rumah tangga. Hati-hatilah, jangan menganggap remeh masalah ini, karena seseorang kadang mendapat musibah disebabkan orang-orang yang dibawah tanggungannya yaitu istri, anak, dan pembantu. Sebab, dia adalah pemegang kendali rumah tangga.”
Beliau wafat pada malam rabu 12 Rabi’uts Tsani 1337 H di Surabaya, dimakamkan pada waktu Ashar hari Rabu. Yang mengimami shalat jenazah tokoh besar ini adalah tokoh besar juga yang sekaligus juga menantunya Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar.