hadisetyono

Goro-goro pemilu 2009, Harap Hati-hati

In Disaster Warning, pemilu 2009 on April 11, 2009 at 5:10 pm

Goro Goro Adalah Sebuah Peringatan

Kalau kita perhatikan, adegan dalam goro-goro selalu berisi petuah-petuah tentang peringatan keadaan yang tidak normal, ke dalam kemasan bahasa yang ringan, diselingi banyolan-banyolan, sehingga orang-orang yang dikritik tidak terlalu malu, juga tidak terlalu terbawa suasana emosional yang kebablasan.

semar

semar

Sebelum tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) muncul, sang Dalang biasanya akan memberikan intro berupa narasi yang menggambarkan kondisi yang tidak normal, alam yang tidak bersahabat, ekonomi, sosial politik, perilaku manusianya yang serba semrawut.

Setelah adengan goro-goro, selalu ada perang tanding antara satria pejuangan kebenaran dan prajurit pendukungnya dengan musuhnya atau para penguji dalam perjuangannya, yang pada akhirnya menanglah sang satria pejuang dan pendukungnya sukses dalam menggapai tujuannya, tetapi selalu memakan korban jiwa.

Coba kita kaji lebih mendalam, mengapa para Walisongo merangkai sebuah alur cerita yang runtut dan baku yang didalamnya ada adegan goro-goro? Dimaksudkan untuk apa adegan goro-goro oleh para walisongo? Para walisongo sudah pasti punya maksud yang luar biasa, Insya Allah untuk sebagai pembelajaran bagi generasi selanjutnya, agar cerdas membaca sinyalemen-sinyalemen dalam goro-goro dalam eranya, untuk diselesaikan agar tidak berlanjut pada babak selanjutnya, yakni perang tanding.

Pertanyaannya, pada posisi dimana kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia? Apakah, pada tahap Pra-goro-goro, ataukah goro-goro, atau sudah mulai begeser ke perang tanding, seperti dalam pewayangan?

Mudah-mudahan, pra goro-goro yang masih adem ayem tentrem, gimah ripah loh jinawi atau adil dan makmur, tapi rasanya tidak mungkinlah! Atau masih dalam tahap terjadi konflik yang terkendali, atau masih wajar sebagai dinamika dalam proses menuju perubahan. Ya, mudah-mudahan saja!

Tetapi kalau melihat realita di masyarakat termasuk komentar-komentar para pengamat, rasanya sudah pada tahap Goro-goro, bahkan sudah mulai berkembang kearah perang tanding. Tapi kita belum terlambat untuk mencegah menjadi perang tanding dan mengembalikan kepada kondisi Pra Goro-goro!

Pertanyaannya siapa yang harus melakukan, secara normatif adalah tugas kita bersama semua komponen bangsa, tetapi secara efektifitas dampaknya yang lebih cepat, harus dimulai dari elite-elite bangsa, karena dari merekalah yang punya otoritas untuk mengatur sebuah irama perubahan dengan baik.

Kalau para elite tidak segera memulai berusaha membawa kearah yang lebih baik, kawatir keadaan semakin memburuk, yang akan mengakibatkan daya tahan rakyat yang sedang tidak diuntungkan oleh keadaan akan jebol atau mudah dijebol oleh pihak-pihak yang menghendaki terjadinya babak perang tanding.

Lho, apakah ada? Berdasarkan pengalaman sejarah, selalu ada pihak-pihak yang menghendaki terjadinya kondisi perang tanding, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, yang biasanya ada saling kerjasama antara pihak dari dalam dan luar negeri.

Yang dari luar negeri jelas, menghendaki supaya Indonesia menjadi lemah, yang pada akhirnya tidak menjadi saingan mereka, atau lebih parah lagi adalah agar Indonesia menjadi budaknya mereka.

Yang dari dalam negeri tentunya ingin mengambil manfaat di air keruh, yang paling parah adalah merebut kekuasaan dengan jalan membenturkan komponen bangsa untuk perang tanding.

Tulisan ini tidak ada maksud untuk membuat takut, memang serasa menakutkan, tetapi ibarat orang sakit, lebih baik tahu bahwa dirinya sakit, yang akhirnya untuk segera diobati, dari pada tidak merasa sakit, tahu-tahu…. wassalam!

Sekali lagi, belum terlambat, tetapi waktu tidak pernah kompromi, artinya harus segera diantisipasi agar tidak terjadi yang tidak diharapkan, agar akhirnya yang terjadi adalah Indonesia yang Adil dan Makmur.

Kalau tidak, akan dimakan oleh sang Waktu, yang dalam pewayangan akan dimakan oleh Betharakala (catatan: Kala adalah waktu), untuk tumbal!

Budi Praptono, budayawan, cucu seorang dalang, ketua Forum Komunikasi Sosial Masyarakat Merah Putih Bersatu. Saat ini aktif sebgai Dosen Tetap di Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: