hadisetyono

Menunggu Satria Piningit 2009

In kitab musasar jayabaya, pemilu 2009, Pemuda Bani Tamim, Satria Piningit, Satrio Pinandito, uga siliwangi on March 5, 2009 at 10:41 am

Satria Piningit

Satria Piningit

Menunggu Satria Piningit 2009

Jakarta – Undang Undang Pemilihan Presiden memberikan implikasi pada dua hal penting. Pertama, dipastikan terjadi koalisi antar partai politik. Kedua, dimungkinkan munculnya tiga pasangan calon presiden. Akan lahir Satria Piningit?

UU Pilpres menyepakati syarat pencalonan presiden-wakil presiden 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional.

Selama ini, berdasarkan hasil survei maupun tren dukungan, dua kandidat yang beredar kuat adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Dengan postur UU Pilpres yang disahkan DPR, Rabu (29/10), akan ada satu calon lagi yang bakal menyodok. Bukan tak mungkin, dia adalah kuda hitam sekaligus satria piningit.

Menurut Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, dengan syarat UU, membuka peluang munculnya tiga pasang calon pada Pemilu 2009 mendatang.

“Ketentuan ini membuka peluang munculnya capres ketiga. Capres pertama dan kedua adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Sukarnoputri,” ujar Denny di Jakarta, Kamis (30/10)

ketika melansir hasil survei nasional calon presiden yang digelar oleh LSI. Hal ini pun diyakini Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso. Menurut dia paling banyak empat pasangan capres-wapres yang bakal maju dalam Pilpres 2009. “Feeling saya, tiga pasangan calon. Paling banyak empat, tapi agak berat,” katanya seusai pengesdahan UU Pilpres di gedung DPR.

Selain hanya akan memunculkan tiga pasangan capres, imbuh Priyo, diyakini dengan format persyaratan pengajuan capres-wapres hanya akan terjadi satu putaran pilpres.

Dalam survei LSI, terdapat lima tokoh potensial yang dapat mengisi ‘lowongan’ capres ketiga setelah SBY dan Megawati. Di urutan pertama ada Ketua Umum DPP Hanura Wiranto yang mencapai popularitas 20,2%, Gubernur DIY Sultan HB X sebesar 15,1%, Ketua Dewan Pembina Partai

Gerindra Prabowo Subianto sebesar 11,9%, dan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir mencapi 2,4%. Dari survei yang dilaksanakan sepanjang September di 33 provinsi dengan melibatkan 1.200 orang responden, SBY dan Megawati masih tetap merupakan dua kandidat terkuat. Selain itu, keduanya juga mengendalikan partai politik papan atas yang diprediksi akan mendominasi Pemilu 2009.

Nominator capres tersebut bisa saja tidak saling berhadap-hadapan satu sama lainnya. Sangat terbuka kelima figur tersebut membentuk koalisi alternatif untuk menyodok SBY maupun Megawati Soekarnoputri. “Sultan dan Prabowo bisa menjadi representasi koalisi alternatif.

Sultan sosok negawaran, sedangkan Prabowo adalah sosok yang tegas,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Bima Arya Sugiarto.

Meski demikian, kelima nominator capres alternatif tersebut bisa saja tidak harus menjadi RI-1. Sangat terbuka kelima nominator capres unggulan untuk capres alternatif dapat menjadi pendamping di dua kekuatan besar, baik SBY maupun Megawati Soekarnoputri.

Partai Golkar, misalnya, memiliki pijakan pada arus internal partai. Dalam hal ini, mereka berniat menduetkan kembali Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dengan SBY menjadi pilihan terbaik. JK maupun Partai Golkar dapat relatif aman dalam Pilpres 2009.

Capres alternatif yang direpresentasikan lima nominator tersebut secara teknis koalisi, jelas bukanlah usaha yang mudah, baik dari sisi personal antar kandidat, maupun teknis pembentukan pemerintahan yang kuat. Kondisi ini jelas berbeda apa yang terjadi baik di figur Megawati maupun SBY yang didukung dengan kekuatan partai yang tak kecil.

Oleh karena itu, dalam pandangan Direktur Ekskeutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti, parpol harus mulai mengatur kode etik dan tata cara koalisi secara internal.

Menurut Ray, koalisi harus terbentuk dengan benang merah visi-misi yang sama antar partai politik. “Harus ada irisan visi dan misi. Jadi koalisi tidak hanya untuk presiden atau wapres,” ujarnya kepada INILAH.COM, Kamis (30/10) di Jakarta.

Selain itu, Ray mengusulkan, capres yang diajukan harus berpijak pada perolehan dalam pemilu legislatif dengan perolehan kursi parlemen terbanyak. “Ini juga mengarah kepada pengaturan jatah kursi kabinet yang tetap berpijak pada perolehan suara pemilu legislatif,” katanya.

Tampaknya menemukan siapa ‘satrio piningit’ dalam Pemilu 2009 bukanlah pekerjaan mudah. Selain hampir mayoritas parpol menentukan arah koalisi maupun pengajuan capres-wapres pasca pemilu legislatif. Namun setidaknya lima nominator versi LSI segera melakukan komunikasi politik untuk menyamakan visi-misi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: