hadisetyono

Ramalan Jayabaya – Lanjutan

In kitab musasar jayabaya on May 29, 2008 at 10:22 am

Jangka Jayabaya

Keadaan era menjelang kedatangan satrio Pandito Sinisihan Wahyu bisa dilihat pada bait 140 ke atas dari ramalan jayabaya. Prabu Jayabaya merupakan buah cinta dari kisah romantis Raden Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Chandra Kirana, yang memerintah Kerajaan Kediri sekitar tahun 1135 sampai dengan tahun 1159.Isi ramalan tersebut adalah sebagai berikut:

140.
polahe wong Jawa kaya gabah diinteri

endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati

tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal
Penafsiran: Tingkah laku orang jawa tidak berarti seperti gabah ditampi, bercampur-baur tidak ada yang bisa dipegang, mana yang benar mana yang asli sulit untuk ditemui. Para pertapa semua tidak berani dan takut menyampaikan ajaran yang benar, karena takut akan kekuasan pemerintah, dan takut akan menemui ajal jika menyampaikan ajaran yang benar.
 

 

141.
banjir bandang ana ngendi-endi

gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti

banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya
Penafsiran: banyak terjadi bencana alam, banjir bandang dimana-mana, gunung meletus tanpa diminta, tanpa isyarat terlebih dahulu, masyarakat membenci pendeta yang bertapa, karena takut akan terbongkar rahasia sebenarnya siapa dirinya.
 

 

142.
pancen wolak-waliking jaman

amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha

sungguh zaman gonjang-ganjing
menyaksikan zaman gila
tidak ikut gila tidak dapat bagian
yang sehat pada olah pikir
para petani dibelenggu
para pembohong bersuka ria
seuntung-untungnya yang lupa,
masih beruntung yang ingat dan waspada
Penafsiran: Zaman ini zaman yang penuh dengan gonjang-ganjing, menyaksikan zaman gila. Jika tidak ikut gila tidak dapat kebagian, yang sehat pada berolah fikir, para petani dibelenggu tidak bisa leluasa, para pembohong bersuka ria, Namun yang menjadi kehendak ilahi adalah keberuntungan selalu berfihak kepada mereka yang selalu ingat kepada Allah dan waspada terhadap keadaan dirinya.
 

 

143.
ratu ora netepi janji

musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu

raja tidak menepati janji
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya
banyak rumah di atas kuda
orang makan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
katanya enak serasa kue bolu
malam hari semua tak bisa tidur
 
 

 

penafsiran: pemimpin bangsa tidak menepati janji (terjadi pada era megawati), kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya,  banyak mobil berkeliaran, manusia makan manusia, banyak terjadi penebangan hutan liar dan penambangan besi, dijual untuk kepentingan sendiri, malam hari tidak bisa tidur karena takut ketahuan tingkah lakunya.

144.
sing edan padha bisa dandan

sing ambangkang padha bisa
nggalang omah gedong magrong-magrong

yang gila dapat berdandan
yang membangkang semua dapat
membangun rumah, gedung-gedung megah

penafsiran: yang gila bisa menghias diri, yang menolak aturan yang benar pada bisa membangun rumah dan gedung-gedung bertingkat.

145.
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes
akeh wong mati kaliren gisining panganan
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara

orang berdagang barang makin laris tapi hartanya makin habis
banyak orang mati kelaparan di samping makanan
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara
penafsiran : yang berdagang barang makin laris, tetapi hartanya makin habis, karena nilai barang dan uang tidak sepadan, banyak orang mati yang kelaparan di samping makanan yang ada, karena pangan tidak tersebar secara merata, banak orang yang berharta, tetapi hidupnya sengsara, karena hidupnya tidak diatas nilai-nilai kebenaran.
 

 

146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil

sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak dapat mencuri dibenci
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta musnah tak jelas larinya
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

penafsiran: orang yang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil, yang tidak bisa mencuri dibenci, yang pinter curang jadi teman, yang benar akan geleng-geleng kepala, orang salah akan senang, banyak harta yang hilang tidak karuan larinya, banyak pangkat dan derajat pada hilang tidak karuan sebabnya.

147.
bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret

sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni
wolak-walike zaman

bumi semakin lama semakin sempit
sejengkal tanah kena pajak
wanita memakai pakaian laki-laki
itu pertanda bakal terjadinya
zaman gonjang-ganjing

penafsiran: bumi semakin lama semakin sempit, karena sudah banyak penduduk dan banyak tempat tinggal, sejengkal bumi diberi pajak, perempuan pada memakai pakaian laki-laki, hal itu pertanda akan menemui zaman yang terbolak-balik nilainya.

148.
akeh wong janji ora ditepati

akeh wong nglanggar sumpahe dhewe
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake hukuming Allah
barang jahat diangkat-angkat
barang suci dibenci

banyak orang berjanji diingkari
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
manusia senang menipu
tidak melaksanakan hukum Allah
barang jahat dipuja-puja
barang suci dibenci
penafsiran: banyak yang berjanji tetapi tidak ditepati, banyak orang yang melanggar sumpahnya sendiri, manusia pada seneng mengambil yang bukan haknya, tidak bertindak berdasarkan hukum Allah, hal yang jahat dipuja-puja, hal yang suci dibenci.
 

 

149.
akeh wong ngutamakake royal

lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale

banyak orang hamburkan uang
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak saudara
banyak ayah lupa anaknya
banyak anak mengusir ibunya
antar saudara saling berbohong
antar keluarga saling mencurigai
kawan menjadi musuh
manusia lupa akan asal-usulnya

penafsiran: banyak orang yang mengutamakan pemborosan harta

lupa akan kemanusiaan, lupa akan kebajikan
lupa saudara lupa sanak
banyak ayah lupa akan anaknya
banyak anak tidak mengakui ibunya
sesama saudara pada cidera
keluarga pada curiga
teman jadi musuh
manusia lupa asalnya
 
 

 

 

  1. Tulisan anda menarik. Mudah-mudahan bisa dibaca dan dicerna dengan baik dan benar oleh para pembaca/browser.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: