hadisetyono

MENGENAL ALLAH

In kitab musasar jayabaya on February 16, 2008 at 4:35 am
MENGENAL ALLAH
Manusia makhluk Allah yang mulia, diciptakan dan diberi ilmu pengetahuan sehingga mengalahkan sekalian makhluk yang ada, lalu dengannya Allah memerintahkan para Malaikat bersujud kepada Adam, malaikatpun mentaati perintah tersebut.
Demikianlah pentingnya ilmu tersebut, para malaikat dan Iblis diperintahkan bersujud kepada Adam, Malaikat bersujud dan Iblis enggan, karenanyalah Allah mengutuknya dan menjadikannya kafir, Allah berfirman mengisahkan hal itu:Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:”Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. 2:34).Melihat hal ini, tentunya kita semua harus bersyukur kepada Allah dan tidak ingin merugi, seperti Iblis tersebut. Untuk itu Allah perintahkan kita untuk berilmu, beramal, berdakwah dan bersabar, sebagai jalan menuju kebahagian dan keuntungan.Allah berfirman:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. al-Ashr 103:1-3)

Berilmu dengan mengenal Allah, Rasul dan AgamaNya, tiga hal yang akan dipertanyakan didalam kubur nanti, sebagaimana sabda Nabi :

Dari al-Baroo’ bin ‘Azib dari Nabi beliau bersabda: Allah menetapkan orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh, berkata:”diturunkan ayat ini pada adzab kubur, lalu ditanya sang mayit: siapa robbmu? Lalu dia menjawab:’Robbku Allah, Nabiku Muhammad “HR muslim.

Oleh karena itu, kenalilah Allah dengan benar! agar selamat dunia dan akherat.

Mengenal Allah ta’ala, perkara yang sangat penting dan mendesak, hal ini merupakan kebutuhan yang sangat primer, lebih mendesak daripada kebutuhan terhadap air, matahari dan udara, karena kita semua tidak akan bisa lepas dari Allah, walaupun sedetik saja. Sedangkan kebutuhan terhadap air, matahari dan udara dapat ditunda barang sejenak.

Akan tetapi dewasa ini, muncul orang yang mengaku muslim, tetapi tidak mengenal Allah. Ditanya tentang Allah dan sifat-sifatnya, dan menjawab: “tidak tahu” atau sok tahu dan salah jawabannya!! Heran memang!? Tapi demikianlah kenyataannya, lalu…kalau sudah menjadi kenyataan, apa yang dapat kita perbuat? Jawabnya, kembali belajar dan meneliti ayat-ayat kauniyah dan syar’iyah yang telah Allah turunkan kepada kita, sebagai petunjuk untuk mengenalNya. Sehingga kita dapat mengenal kebesaranNya.

Allah berfirman:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. al-Baqaroh 2:164.). demikian juga firmanNya:

Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shood 38:29) dan firmanNya:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. an-Nisaa’ 4:82)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.Dan langit, bagaimana ia ditinggikan .Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan.Dan bumi bagaimana ia dihamparkan (QS. al-Ghosiyah 88:17-20)

Allah berfirman:

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang .Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (QS. al-Mulk 67:3-4)

Katakanlah:”Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. (QS. al-An’am 6:11) dan firmanNya:

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. al-An’am 6:6)

Cara Mengenal Allah Ta’ala.

Mengenal sesuatu hanya dapat dilakukan dengan tiga cara:

Melihat langsung dzatnya, ini tidak mungkin dapat dilakukan terhadap Allah, karena Dia tidak dapat dilihat didunia ini, sebagaimana firmanNya:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:103)

Melihat dzat yang sejenis atau serupa dengannya, sebagaimana mengenal gajah yang dihutan, dengan melihat gajah yang dikebun binatang. Inipun tidak mungkin dilakukan pada Allah, karena tidak ada yang serupa denganNya, sebagaiman firmanNya:
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 42:11)

Mengenal dengan melihat dan mendengar beritanya dari sumber yang terpercaya dan absolut. Inilah satu-satunya cara mengenal Allah, karena dua cara diatas tidak mungkin dilakukan, maka dengan cara ketiga inilah kita dapat mengenal Allah dengan benar dan valid.
Mengenal Allah yang benar hanya dapat dilakukan dengan melihat kembali pada khabar (berita) yang Allah sampaikan tentang diriNya baik dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah. Kalau kita melihat kepada dua sumber kebenaran yang absolut ini, didapatkan keduanya berbicara tentang tiga hal, yaitu:

1. Allah itu ada.

2. Allah sebagai Robb yang memiliki nama dan sifat yang sempurna.

3. Allah sebagai Ilah (sesembahan) yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia.

Perlu kiranya kita paparkan dengan singkat tiga hal diatas, agar kita semua dapat beriman kepada Allah dengan benar.

1. Allah itu ada.

Keberadaan Allah merupakan perkara yang sudah tidak dapat dipungkiri siapapun yang berakal, karena telah ditunjukkan secara tegas oleh akal, indera, fithroh dan syari’at.

Dalil Akal:

‘Keteraturan alam semesta yang kita lihat ini, benda dan makhluk yang ada didalamnya tidak pernah mengalami benturan dan berjatuhan, matahari dan bulan tidak pernah bertabrakan, malam dan siang tidak pernah terbalik, bahkan kita lihat semuanya dapat berjalan sesuai dengan porosnya dan tempatnya, apakah mungkin mereka semua menciptakan diri mereka masing-masing tanpa ada yang menciptakannya? Ataukah mereka ada begitu saja tanpa pencipta? Tentu tidak mungkin, karena sesuatu yang tidak ada tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin ada dengan sendirinya, karena keteraturan alam ini menolaknya.

Imam Abu Hanifah pernah ditanya orang yang menolak adanya Allah, mereka bertanya: “Buktikanlah kepada kami, Allah itu ada?” beliau menjawab:”Tunggu sebentar!” lalu beliau berkata kepada mereka: “Saya berfikir tentang sebuah kapal laut bermuatan barang yang banyak yang berlabuh didermaga, lalu semua muatannya turun tanpa ada yang menurunkan. Kemudian kapal tersebut berlayar kembali tanpa nahkoda”. Mereka bertanya: “mengapa kamu berfikir demikian, kan hal itu tidak masuk akal dan kami tidak akan mempercayainya?”. Lalu beliau jawab: “kalau kalian tidak mempercayainya, bagaimana kalian percaya matahari, bulan, bintang, langit dan bumi ada tanpa pencipta?”.[1]

Demikianlah, hal ini diisyaratkan Allah dalam firmanNya:

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) (QS. 52:35)

Dalil Indera:

Kita melihat dalam do’a, misalnya seorang berdo’a kepada Allah, berkata: “Ya, Allah, berilah kami rizqi”. Lalu dikabulkan permintaannya. Kalau begitu tentunya ada dzat yang mendengar do’anya dan mengabulkan permintaannya. Alangkah banyaknya kisah dikabulkan do’a para nabi dalam Al-Qur’an, seperti:

Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika ia berdo’a, dan Kami memperkenankan do’anya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar. (QS. 21:76)

Dalil Fithroh:

Seorang secara tabiat, kalau ditimpa satu musibah akan ingat kepada Allah dan mengatakan: “Ya Allah”. Sampai-sampai kita dengar dari kaum kafir yang tidak mengakui adanya Allah, ketika mendapatkan musibah mengatakan hal tersebut, tanpa dia sadari, karena fitrohnya telah menunjukkan adanya Allah sebagaimana Allah sampaikan dalam firmanNya:

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. (QS. 7:172)

Dalil Syar’i:

Ini sangat banyak, bahkan semua syari’at, jika diteliti, menunjukkan adanya Allah, karena siapakah yang menurunkan syari’at? Allah berfirman:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. 4:82)[2]

Demikian juga adanya para rasul dan agama yang bersesuaian dengan kemaslahatan umat manusia menunjukkan adanya Allah, karena tidak mungkin ada agama dan rasul kecuali ada yang mengutusnya. Akan tetapi agama-agama yang ada selain Islam telah mengalami penyimpangan dan perubahan sehingga mereka menyimpang dari jalan yang lurus.

2. Allah sebagai Robb yang memiliki nama dan sifat yang sempurna.

Setelah kita mengenal dan mengimani keberadaan Allah sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka perlu kita kenali Allah sebagai robb yang telah menciptakan, memiliki dan mengatur semua makhluknya, Dialah satu-satunya pencipta yang mengadakan sesuatu dari ketidak adaan, Allah berfirman:

Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:”Jadilah”. Lalu jadilah ia. (QS. 2:117)

Dialah satu-satunya pemilik sebagaimana Dia adalah satu-satunya pencipta, demikian juga Dia pengatur satu-satunya yang mengatur segala sesuatu. Semua ini diakui oleh kaum musyrikin Mekkah, sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’an:

Katakanlah:”Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah”. Maka katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS. 10:31)

Firman Allah:

Katakanlah:”Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui” Mereka akan menjawab:”Kepunyaan Allah”. Katakanlah:”Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah:”Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab:”kepunyaan Allah”. Katakanlah:”Maka apakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah:”Sipakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab:”Kepunyaan Allah”. Katakanlah:”(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. 23:84-89)

Firman Allah:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:”Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah), (QS. 43:87)

Ini semua menunjukkan imannya kaum musyrikin terhadap rububiyah Allah, akan tetapi hal ini tidak cukup untuk menyelamatkan mereka. Memang demikianlah, sebab mereka belum merealisasikan iman mereka terhadap Allah sebagai satu-satunya sesembahan.

——————————————————————————–
[1] Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syarah hadits Jibril, hal.148.

[2] ibid hal.149

Oleh
Syeikh Muhammad ibn Sholeh AL-Utsaimin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: