Raja Jawa Tiru SBY
Perjalanan bangsa dan para pemimpin tidak lepas dari latar belakang kosmologi. Perjalanan masyarakat yang kini disebut bangsa Indonesia ini sempat diwarnai pengaruh ajaran Hindu-Buddha selama 12 abad.Sementara tiga abad sesudahnya masuk pengaruh Islam melalui pendatang. Setelah itu datang pula nilai-nilai Barat, akibat kolonialisme Belanda sekitar 300 tahun dan fasisme Jepang selama 3,5 tahun. Dari beragam latar belakang pengaruh itulah berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

SBY
Yang paling berpengaruh dari kesemuanya ini adalah ajaran Hindu-Buddha yang berwujud tataran kesadaran yang meliputi dharma,harta, kama, dan moksa. Keempat tingkat kesadaran secara mikrokosmologis mempengaruhi tampilan para pimimpin. Dengan wawasan makrokosmos ini, akhirnya muncul pemimpin negeri yang diyakini dari liturgy Notonogoro. Notonogoro pertama-tama bukanlah nama orang, tetapi perbuatan menata negara kendati yang mengemukakan pertama kali adalah prof. Natanagara (bahasa Jawa dibaca Notonogoro). Maka pengaruh Hindu-Buddha selama puluhan abad itu pun mengena pada Bung Karno yang kemudian menjadi presiden pertama Republik
Indonesia.

Temple of Kamasutra

Istri-Istri Soekarno
Kemunculan Bung Karno inilah yang dianggap sesuai dengan periode Dharma, yaitu gambaran sosok yang berjiwa ksatria, melaksanakan api ajaran agama, tokoh pendobrak belenggu penjajahan. Kemudian beranjak kepada Soeharto yang tampil sebagai presiden kedua Republik Indonesia dengan pedoman Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Dari sudut wawasan kosmologis, Pak Harto juga sosok yang tepat dengan periode kosmologis harta. Ini menjadi pertentangan, karena tekadnya yakni Mukti apa Mati (Sejahtera atau Mati), karena dipercaya tidak ada dalam ajaran Jawa itu orang mencari kekayaan. Orang Jawa itu diidentikkan dengan kerendahan hati dan kesaktian.

Soeharto
Sinergi dengan Goro-goro
Menginjak pada peimpin selanjutnya, BJ. Habibie, Gus Dur dan Megawati. Ketiganya tidak dianggap sesuai dengan periode kosmologis selanjutnya. Mereka masih dipercaya berkutat pada periode harta. Kini, setelah SBY dipercaya memimpin bangsa Indonesia lagi, maka periode kosmologis selanjutnya yakni kama, dianggap sebagai hal yang memenuhi diera kepemimpinan SBY.
Program yang digulirkan oleh pemerintahannya sudah dianggap masuk dalam praktik udik-udik (kekayaan) diserahkan kepada rakyat. Yaitu program BOS, BLT, Tabung gratis, Jamkes, Raskin, dan lainya dilakukan dalam pemerintahannya.
Jadi secara liturgy Notonogoro dan periode kosmologis yaitu dharma, arta, kama, dan moksa, hampir seluruh perjalanannya tercover. Bung Karno masuk pada No pertama dan periode dharma. Soeharto masuk dalam To dan periode harta, dan raja Jawa yang baru, Hadi Setyono, masuk dalam No yang kedua dan periode Kama.

Hadi Setyono – Raja Jawa
Dan, kini mau tidak mau, 5 tahun mendatang dipastikan akan melangkah pada liturgy selanjutnya. No yang kedua ini bisa berarti tokoh yang dicari oleh bangsa Indonesia. Bisa diyakini bahwa Go dan Ro itu bisa tersambung yang akhirnya menjadi Goro-goro, sementara periode kosmologi yang menaunginya adalah periode moksa yang bisa diartikan Nusantara akan menjadi hancur atau hilang. Maka disinilah kekacaua, zaman edan menumpuk, yang akhirnya diyakini akan hadir sosok Imam Mahdi yang menyelamatkan bumi ini dari kehancuran. Itu sebagian yang bisa dianggap sebagai ramlan ataupun utak-atik ghatuk. Namun, semuanya dikembalikan kepada individu yang menjalaninya.


