hadisetyono

Mencintai Keluarga Nabi Muhammad Saw

In indonesia emas, Pemuda Bani Tamim, religius, Satria Piningit, Satrio Pinandito, Siapakah Imam Mahdi on June 18, 2009 at 9:21 am
Silsilah Keluarga Nabi Muhammad saw

Silsilah Keluarga Nabi Muhammad saw

Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan dua perkara yang besar untuk kalian, yang pertama adalah kitabullah (Al-Quran) dan yang kedua adalah ithrati (keturunan) Ahlulbaitku. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka tidak akan tersesat selamanya hingga bertemu denganku di telaga al-Haudh.” (HR. Muslim dalam Kitabnya Sahih juz. 2, Tirmidzi, Ahmad, Thabrani dan dishahihkan oleh Nashiruddin Al-Albany dalam kitabnya Silsilah Al-Hadits Al-Shahihah)

Marilah kita letakkan segala bentuk fanatisme yang ada di pundak kita selama ini. Tidak dipungkiri lagi bahwa keluarga Nabi Saw yang terkenal dengan sebutan Ahlulbait adalah manusia-manusia yang mempunyai kelebihan dan keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya setelah Rasulullah Saw. Akan tetapi sangat disayangkan sekali bahwa banyak sekali kaum Muslimin yang melupakan dan bahkan tidak mengetahui eksistensi mereka (keluarga Nabi saw).

Hadits di atas adalah salah satu dari puluhan bukti otentik yang sangat jelas yang mengisyaratkan kepada kita semua bahwa begitu besar keutamaan mereka hingga Nabi Saw berwasiat kepada para sahabatnya dan kita khususnya sebagai umat Islam agar selalu berpegang teguh kepadanya (Al-Quran & Ahlulbait), jika tidak maka akan tersesatlah mereka yang berpaling dari dua perkara besar tersebut (Ath-Tsaqalain).

Mengapa keluarga Nabi Saw? Apakah beliau Saw berkata seperti itu hanya dikarenakan faktor kasih sayang beliau terhadap keluarganya dan juga karena hubungan darah semata? Tentu saja tidak, karena segala perkataan yang keluar dari mulut suci beliau pasti atas dasar petunjuk dari Tuhannya, Allah Swt, sebagaimana firman-Nya:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm: 3-5)

Marilah kita bertabarruk dengan mempelajari ayat-ayat Al-Quran maupun hadits-hadits sahih yang berkenaan dengan Ahlulbait Rasulullah kemudian membuka mata dan hati kita untuk melihat kemuliaan-kemuliaan mereka yang selama ini tidak kita ketahui agar kita dapat mencintai mereka dan mengikuti apa yang diajarkan oleh mereka ‘alaihimussalam.

Hanash Kanani meriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya (meninggalkannya) maka mereka akan tenggelam.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak Ash-Shahihain, juz 2, Al-Hakim berkata hadis ini Shahih)

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan. Adapun Ahlulbaitku adalah petunjuk keselamatan bagi umatku dari perpecahan. Maka apabila ada kabilah Arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”. (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain juz 3, Al-Hakim menyatakan bahwa hadis ini Shahih sesuai persyaratan Bukhari & Muslim)

Rasulullah Saw bersabda, “Belum sempurna keimanan seorang hamba Allah sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada Ahlibaitku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri.” (HR. Thabrani)

Ibnu `Abbas berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Cintailah Allah atas kenikmatan yang diberikan-Nya kepadamu sekalian dan cintailah aku dengan mencintai Allah dan cintailah Ahlulbaitku karena mencintaiku” (Al-Hadits)

Ibnu Taimiyah mengemukakan suatu hadits yang berkenaan dengan Ayat Shalawat (Qs. Al-Ahzab ayat 56) mengenai peringatan Rasulullah Saw kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian bershalawat untukku dengan shalawat yang terputus.” Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan Shalawat terputus?” Baginda menjawab, “Kalian mengucapkan, Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, lalu kalian berhenti di situ! Ucapkanlah, Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad (Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad)” (HR. Bukhari, kitab Tafsir, juz 6; Sahih Muslim Kitab Ash-Shalah juz 2; Tirmidzi juz 1, Sunan An-Nasa’i juz 3; Sunan Ibnu Majah juz 1; Sunan Abu Dawud juz 1, dll)

Tidakkah kita menyadarinya bahwa begitu tingginya kemuliaan mereka hingga setiap kali kita melakukan shalat baik yang wajib maupun yang sunnah sehari semalam umat Islam dimana saja mereka berada wajib mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya, sehingga akan menyebabkan tidak sah shalat kita tanpa shalawat tersebut, Subhanallah.

Marilah kita lihat isyarat besar keagungan keluarga suci Rasulullah dari perspektif Al-Quran, dimana Allah Swt memilih mereka untuk menduduki kursi kepemimpinan dari sisi-Nya, ini bukanlah suatu hal yang baru, karena Allah Swt juga telah memilih keluarga nabi-nabi terdahulu untuk jabatan yang sama, seperti keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 33-34)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (QS. An-Nisaa: 54)

Jika sunatullah telah berlaku dalam hal pengutamaan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran atas manusia yang lain maka bagaimana mungkin sunatullah itu tidak berlaku pada keluarga Rasulullah Saw?

Apabila kita mengetahui bahwa Rasulullah Saw adalah seutama-utamanya nabi dan semulia-mulianya rasul maka, keluarganya pun sudah pasti adalah seutama-utamanya manusia dan keturunan para nabi. Logika akal sehat tidak mungkin memungkiri hal ini.

Keutamaan dan kemuliaan mereka pun dipertegas oleh Allah di dalam Al-Quran tentang kesucian diri-diri mereka Ahlulbait sebagaimana firman-Nya di dalam Surah Al-Ahzab ayat 33 tentang pensucian Ahlulbait:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Manusia-manusia suci sudah pasti segala perkataannya suci hingga akhir zaman. Hal inilah yang menjadi wasiat dari Rasulullah Saw untuk kita agar selalu mencintai dan berpegang teguh kepada Al-Quran dan Ahlulbaitnya hingga bertemu dengan beliau di telaga al-Haudh kelak.

Maha benar Allah dengan segala firmannya, dan shalawat-Nya terlimpah atas Muhammad dan keluarga Muhammad. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad.
Referensi:

1. Kitabullah, Al-Quran
2. Kitab-kitab Hadits Ahlussunnah (Sahih Muslim, Mustadrak, Tirmidzi, dll)
3. Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Penerbit Lentera.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: