hadisetyono

Archive for January, 2009

Tahun 2009, Zaman hadi dimulai

In kitab musasar jayabaya on January 28, 2009 at 2:27 am

Indonesia Saat Ini

Indonesia Saat Ini

Jangka Jayabaya, pethikan serat tangan

 

Bilih sampun wonten tandha-tandha ingkang sampun celak rawuhipun calon Ratu Adil;

(Tanda-tanda kehadiran Ratu Adil sudah dekat:

 

Padha kaping 1

Besuk ing jaman akhir, sawise jaman hadi, ratu Adil Imam mahdi saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tatanduran suda pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi.

(Nanti pada jaman akhir, setelah jaman hadi (Imam Mahdi orang asli Indonesia tetapi kebetulan beragama Islam) , ratu adil Imam Mahdi dari tanah Arab hampir datang, tandanya sudah hampir tiba waktunya, tanda-tandanya adalah; tanaman berkurang hasilnya, para pemuka agama kehilangan watak sabarnya, pemimpin kurang rasa keadilannya, perempuan kehilangan rasa malu, banyak orang bertengkar dan berbohong, banyak orang kecil menjadi priyayi, orang berilmu kurang pengamalannya dan tindak-tanduknya janggal/aneh.  

 

Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengarane maneh:

Tanda-tanda jika datangnya Ratu Adil sudah dekat sekali;

 

1) yen sasi sura ana tundhan dhemit.

(bulan sura ini terjadi pada sekitar Januari-Februari 2007, sebagai bulan sura duraka, di tahun kalabendu; maka banyak musibah dan kecelakaan mengerikan baik di udara, darat, laut (kereta, pesawat, kapal laut, bus, kendaraan)

2) srengenge salah mangsa mletheke.

(awal 2007 matahari terbit setelah jam 06.00 wib; seharusnya terbit mulai jam 05.30 wib)

3) rembulan ireng rupane

(dibarengi dengan kejadian gerhana bulan berturut-turut selama tiga hari, di tiga lokasi wilayah nusantara).

4) banyu abang rupane.

(awal bulan februari 2007 hampir diseluruh  wilayah Indonesia terjadi banjir, airnya keruh berwarna coklat kemerahan, lamanya sekitar 3-5 hari)

 

Tengara iki telung dina lawase, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu adil mau rawuhe anggawa bala jim, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.

(tengara ini 3 hari lamanya, bila sudah terdapat tengara itu, mulai memasuki zaman di mana semua orang akan ditanyai, yang tidak bisa menjawab bakal menjadi makanan makhluk halus, sebab ratu Adil kedatangannya membawa berjuta malaikat, jin dan makhluk halus (siluman) banyak tak terhitung.

Keterangan; semua orang “ditanyai”; dalam arti disodorkan dua pilihan, ingin jalan yang baik dengan mengikuti langkah RA atau memilih jalan kegelapan dengan menentang RA. Yang tidak bisa menjawab, berarti termasuk orang-orang menentang kedatangan RA utusan Tuhan. RA dibimbing dan dituntun (jangkung dan jampangi) berjuta leluhur bumi nusantara (mayuta malekat), sedangkan orang-orang yang melawan RA akan mendapatkan celaka sebagai hukuman tuhan.

 

Padha kaping 2

Dene pitakone lan wangsulane mangkene;

(Pertanyaan dan jawabannya sebagai berikut)

 

asalmu saka ngendi = saking kodratulah,

yen bali apa sangumu = sahadat iman tokid makripat islam,

apa kowe weruh aranku = Gusti Ratu Adil Idayatullah,

apa agamamu = sabar darana,

apa kowe weruh bapakku = Gusti ratu adil Idayat Sengara,

apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilairake = Kalahirake Hyang Wuhud wonten sangandhaping cemara pethak.

Keterangan: ratu adil imam mahdi dari tanah arab maksudnya, pemimpin umat manusia di bumi nusantara yang bersifat universal, kebetulan sebagai pemeluk Islam. “berbaju” Islam tetapi memperoleh “makrifat” seluruh agama di bumi.

 

Dari mana asalmu ? Jawab; atas kehendak Gusti Allah. Ratu adil lahir di bumi nusantara,  sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika ‘pulang’ mempertanggungjawabkan tugas manusia sebagai utusan Tuhan, bekalnya adalah ikrar janji dan menepati janjinya, sebagai manusia yang menggapai makrifat. Kesaksian bahwa Ratu Adil membawa amanat bagi kebahagiaan seluruh rakyat melalui ilmu makrifat yang  universal melampaui semua agama, suku, ras, golongan.

 

Apa kamu tahu namaku? Jawab; gusti Ratu Adil pembawa petunjuk dari Tuhan.

 

Apa agamamu? Jawab; kesabaran yang seluas samudera.

 

Apa kamu tahu bapakku? Jawab; gusti Ratu Adil Idayah Sengara, orang selalu mengutamakan keadilan dan keluhuran budi pekerti, dan hidupnya berada selalu dalam ‘laku prihatin’.

 

Apa kamu tahu dimana aku dilahirkan? Jawab; Dilahirkan oleh Hyang Wuhud, di bawahnya pohon cemara putih.

Maknanya; dilahirkan oleh seorang ibu yang berbudi pekerti amat luhur, suci hatinya, bersih lahir batinnya, cerdas pikirannya. Lahir di bawah (pohon) cemara putih, artinya RA dilahirkan dari rahim seorang ibu yang rambutnya sudah mempunyai uban, atau seorang ibu (yang secara teori), sudah tak mungkin bisa melahirkan anak.

Wahyu Soekarno, Syarat Presiden

In GlobalVillage, Pemuda Bani Tamim, Satrio Pinandito, Warisan Bung Karno, indonesia emas, main, pemilu 2009, religius, uga siliwangi on January 28, 2009 at 2:07 am

Wahyu Soekarno, Syarat Presiden

Tampaknya, sosok Ir. Soekarno (Presiden pertama RI) sangat legendaris. Betapa tidak, kerinduan akan munculnya pemimpin yang mirip Bung Karno, diwujudkan dengan bertafakur dan berharap akan kedatangan tokoh yang memiliki kharismatik seperti Soekarno.

Soekarno Speech

Soekarno Speech

Seorang spiritualis bernama wiryo Soekarno mengatakan Indonesia saat ini dalam kondisi gelap. Untuk mengubah kondisi ini harus dipimpin oleh seseorang yang mendapatkan wahyu eko bawono. Penerus ajaran
Soekarno harus tegas, gagah dan berani. Dengan demikian, lanjutnya, bisa menjadi pemimpin Indonesia seperti yang diimpikan oleh proklamator tersebut. Wahyu eko bawono sesungguhnya adalah wahyu Seokarno,
yakni kemampuan memimpin sebagaimana Bung Karno. Padahal, dalam pewayangan, disebutkan, penerima wahyu Eko Bawono adalah raden sadewa, bungsu dari ksatria Pandawa, yang secara esensial merupakan wahyu ketentraman untuk bangsa dan negara.

Kepemimpinan Nusantara mendatang adalah yang bisa memimpin revolusi. Dari latar belakang apa saja, dan dengan segala resikonya. Menurut Bung Karno, yang perlu dipegang dari ajaran islam adalah apinya, yaitu api yang
bersemayang didalam dada, sehingga bisa berkobar dan bersemangat dan bergema setiap harinya. Api revolusi dan api cinta yang merupakan sebaran dari api Tuhan itu sendiri. Revolusi cinta yang menyala setiap harinya memberikan kemampuan bagi bangsa dan negara untuk bertahan. Solusi dan alternatif bangsa hanya bisa ditempuh dengan revolusi. Jika ini dilaksanakan, dijamin atau pasti bangsa dan negara mencapai cita-citanya. Jika tidak bisa dilaksanakan, nusantara bisa buyar (bubar).

Ini adalah visi. Pemimpin mendatang harus yang berani memimpin revolusi, bisa ditafsirkan sebagai tokoh yang mirip Ir. Soekarno (Presiden pertama RI). Sepanjang sejarah bangsa Indonesia, hanya Bung Karnolah yang berani memimpin revolusi. Kalau sekarang ada figur yang seperti itu, dialah yang pantas memimpin Nusantara.

Menurut Al-Quran, orang yang munafik diibaratkan orang yang menyalakan api tetapi dipadamkan oleh Allah, sebagai berikut:
matsaluhum kamatsali alladzii istawqada naaran falammaa adhaa-at maa hawlahu dzahaba allaahu binuurihim watarakahum fii
zhulumaatin laa yubshiruuna

[2:17] Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api {26}, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya
Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 17)

allaahu waliyyu alladziina aamanuu yukhrijuhum mina alzhzhulumaati ilaa alnnuuri waalladziina kafaruu awliyaauhumu
alththaaghuutu yukhrijuunahum mina alnnuuri ilaa alzhzhulumaati ulaa-ika ash-haabu alnnaari hum fiihaa khaaliduuna
[2:257] Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya
(iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya
kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 257)

sedangkan orang yang beriman mendapatkan cahaya dari Allah diibaratkan sebagai misykat yang menaungi cahaya. Cahaya di atas
cahaya. Itulah cahaya Allah yang melindungi orang-orang beriman dari kekafiran.

allaahu nuuru alssamaawaati waal-ardhi matsalu nuurihi kamisykaatin fiihaa mishbaahun almishbaahu fii zujaajatin
alzzujaajatu ka-annahaa kawkabun durriyyun yuuqadu min syajaratin mubaarakatin zaytuunatin laa syarqiyyatin walaa
gharbiyyatin yakaadu zaytuhaa yudhii-u walaw lam tamsas-hu naarun nuurun ‘alaa nuurin yahdii allaahu linuurihi man
yasyaau wayadhribu allaahu al-amtsaala lilnnaasi waallaahu bikulli syay-in ‘aliimun
[24:35] Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus {1040}, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) {1041}, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu. (AN NUUR (Cahaya) ayat 35)

Misykat Insaniah

Misykat Insaniah

Gerhana Matahari Cincin, Tanda perubahan Zaman di Indonesia

In indonesia emas, main, pemilu 2009 on January 26, 2009 at 9:39 am
gerhana matahari cincin

gerhana matahari cincin

Ratusan orang memadati Planetarium Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (26/1) sore untuk melihat langsung gerhana matahari cincin.

Petugas Planetarium memberikan penjelasan kepada pengunjung, mengenai fenomena alam yang akan terjadi sore ini. Staf bagian pertunjukan dan observasi Planetarium, Riser Fahdiran mengatakan, puncak gerhana akan terjadi pukul 16.41. Namun, fenomena kemunculannya akan berlangsung mulai pukul 15.21.

“Terlihatnya ya akan seperti cincin. Kira-kira di Jakarta ada bagian dari matahari yang tertutup 86 persen dari seluruh permukaannya,” jelas Riser.

Di kawasan Cikini, cuaca mulai cerah. Jika mendung, maka kemungkinan besar gerhana tidak akan terlìhat. Bagi para pengunjung,tersedia layar besar di hall Planetarium. Lima buah teropong juga tersedia, bagi pengunjung yang ingin mengamati secara langsung.

Gerhana Mathari Cincin, Tanda Perubahan Zaman di Indonesia

Indonesia berada pada saat-saat perubahan zaman, atau masa transisi dari zaman kalabendu ke kalasuba. Indonesia adalah sebuah bangsa yang mengalami masa transisi. Saat-saat perubahan zaman dahulu dijajah
oleh VOC, kemudian dijajah jepang. Kemudian Indonesia mendapatkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

seokarnodansoeharto

Di awal abad ke-20, Indonsia dikenal sebagai bangsa yang memiliki berbagai etnis suku bangsa. Indonesia
dikenal sjuga sebagai Nusantara, abad ini dikenal sebagai abad nusantara, dimana bangsanya dikenal sebagai
bangsa Indonesia. Akhir dari masa penjajahan hanyalah menunggu waktu. waktu terus bergulir, dan masa pemerintahan
ganti-berganti, mulai dari masa awal-awal kemerdekaan oleh pemerintahan Soekarno-Hatta. Kemudian digantikan oleh
pemerintahan Soeharto di Masa Orde Baru. Bersama dengan sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan Adam Malik, Soeharto
membagi waktu tugas untuk ekonomi dan rekonstruksi politik. waktu terus bergulir sampai kejadian adanya pelanggaran
hak asasi manusia pada suku etnis tionghoa atau suku chinese pada tahun 1998. Pada tahun itu terjadilah krisis finansial
dan menyebabkan terjadinya perubhahan politik dan pemilihan kepemimpinan. Soeharto digantikan dengan cara mengundurkan diri
dan digantikan oleh BJ. Habibie.

Pemerintahan berganti dari Gus Dur menjadi Megawati.

megawati

megawati

Pada saat ini, partai politik menjadi mesin politik untuk menggantikan tampuk pimpinan yang dipegang oleh Susilo Bambang
Yudhoyono. PKS, PDI Perjuangan, PPP, PKB berkoalisi untuk menurunkan pimpinan pemerintahan saat ini.

Susilo Bambang

Zaman Kalasuba

Zaman kalasuba ini ditandai dengan adanya pergantian politik dan suasana keagamaan di Indonesia. Zaman ini dipenuhi oleh sukaria dan canda tawa yang akan membawa kebahagiaan bagi Bangsa Indonesia.

Sunset

Sunset

Sistem Pertahanan Semesta

In Departemen Pertahanan, Satrio Pinandito on January 21, 2009 at 5:08 am
indonesia-today1

Indonesia Today

Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Gus Dur, dan anggota Komisi I (Bidang Pertahanan dan Hubungan Luar Negeri) DPR RI Happy Bone Zulkarnain. Daya tarik utama terletak pada Menhan. Mas Edy sangat dekat dengan Menhan, dan oleh karena itu saya pikir saya akan ada kesempatan foto bersamanya kalau saya minta tolong pada Mas Edy. Lagipula, sebagai pembahas, lagi-lagi kata Humprey, akan ada Kusnanto Anggoro. Mas Kus adalah salah satu pemerhati pertahanan dan militer yang terkenal di Indonesia. Seperti Mas Edy, dia juga adalah peneliti CSIS[3], dan mereka lumayan dekat. Nah, saya juga ingin bertemu langsung dengannya dan juga berfoto.

Pada kenyataannya, di hari H, Menhan tidak bisa hadir karena harus menghadiri rapat dengan Malaysia di sebuah tempat. Ajudan Menhan pada malam sebelumnya menelepon Humprey dan menyatakan permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri seminar. Demikian halnya dengan Gus Dur. Sampai malam sebelumnya sebenarnya dia sudah konfirmasi akan hadir, tetapi pagi harinya Gus Dur membatalkan. Katanya sih dia kemarinnya lupa cuci darah, jadi harus hari ini (hari seminar) dilakukan. Selain mereka, Kusnanto Anggoro pun tidak hadir. Kalau dia sih, seperti biasa, tidak hadir dengan alasan yang misterius. Kata Mas Edy setelah mencoba menghubungi ponselnya, “Gak ada nadanya sama sekali!”

Jadi memang pada akhirnya pembicaranya hanya Mas Edy dan Happy Bone Zulkarnain, dengan Mas Hari sebagai Moderator.

Mas Edy mendapat giliran pertama untuk memberikan paparan. Arti dari pertahanan semesta adalah pemanfaatan semua sumber daya nasional untuk pertahanan, dan ini bukan eksklusif milik Indonesia. Di Singapura dikenal dengan nama Total Defense, di Vietnam dan Cina disebut dengan People’s War, dan di negara-negara lain pun menggunakan sistem serupa. Bahkan juga Timor Leste.[4]

Doktrin pertahanan Indonesia menurut Departemen Pertahanan memiliki dua dimensi. Pertama adalah menyiapkan kekuatan untuk daya tangkal menggunakan semua sumber daya nasional. Kedua, dalam keadaan perang mendayagunakan setiap sumber daya nasional tersebut. Inilah yang disebut Sishanta (Sistem Pertahanan Semesta), dulu dikenal dengan nama Sishankamrata. Inti dari sistem ini bukanlah melibatkan rakyat ketika terjadi perang, tapi memberi ruang bagi penggunaan sumber-sumber daya nasional.

Indonesia memiliki berbagai produk UU tentang pertahanan tapi selalu gagal mengelaborasi ketentuan-ketentuan normatif yang tertuang dalam UU tersebut ke dalam suatu sistem. Sekarang ini sedang diupayakan pembentukan sebuah sistem untuk pelaksanaan Sishanta tersebut, yaitu Sistem Pertahanan Berlapis.

Menurut sistem ini Kesemestaan ditujukan kepada dua hal. Pertama adalah kemampuan Indonesia untuk mempertahankan diri di semua wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Untuk melakukannya diperlukan pemetaan wilayah. Sekarang penempatan dilakukan dengan pola Armada Barat (Armabar) dan Armada Timur (Armatim) untuk AL, Corong Barat dan Corong Timur untuk AU, dan berbagai tingkatan wilayah untuk AD, mulai dari Babinsa, Koramil, Kodim, Korem dan Kodam.

Dokumen terbaru Dephan telah memperbaharui gelar pasukan. Wilayah Indonesia akan dibagi dalam beberapa Komando Gabungan Wilayah (Kogabwil). Dengan demikian, harusnya, akan ada restrukturisasi komando teritiorial. Dalam Kogabwil, tiga angkatan akan menjadi satu, tidak terpisah seperti sistem gelar pasukan yang sekarang ini terjadi. Dengan kata lain, setiap Kogabwil akan memiliki kekuatan darat, laut dan udara. Harus ditentukan juga matra yang dominan untuk tiap Kogabwil. Misalnya Kogabwil I, sekitar Malaka dan Sumatera, yang konsentrasinya adalah pengamanan laut, maka semestinya yang menjadi komandan adalah Angkatan Laut. Untuk wilayah Kalimantan, untuk mengawasi perbatasan yang patoknya sering berpindah dan juga ada masalah penebangan liar, maka mungkin komandannya akan dari Angkatan Darat.

Kemudian lagi, tiap-tiap wilayah akan diberi zona-zona. Zona I, yang terluar, ditujukan untuk menghancurkan musuh bahkan sebelum memasuki Zona Ekonomi Ekslusif. Zona II adalah ZEE termasuk udara di atasnya lalu Zona III adalah wilayah darat.

Pada masa lalu penzonaan ini juga dilakukan. Dokumen tahun 1966 dan 1982 membagi pertahanan Indonesia menjadi tujuh lapis. Masalahnya, di dua dokumen tersebut, ada strategi pertahanan pada lapis ketujuh untuk mengatasi tindakan subversif. Ini adalah dasar pembentukan Kopkamtib. Padahal strategi di lapis I – VI memiliki isi yang luar biasa.

Arti kedua Kesemestaan dalam Sistem Pertahanan Berlapis adalah dalam kekuatan yang hendak dibangun. Kesemestaan dalam konteks ini artinya selain kekuatan utama, yaitu TNI, ada komponen-komponen yang lain, yaitu komponen cadang dan komponen pendukung.

Komponen cadangan pada dasarnya adalah sumber daya manusia yang direkrut oleh negara yang pada saat dibutuhkan akan dimasukkan ke dalam komponen utama. Orang-orang ini harus memenuhi syarat tertentu dan kemudian dipanggil untuk menjadi komponen cadangan. Ketika komponen cadangan ini diaktifkan, maka komponen ini bukan lagi hanya sebagai cadangan, tapi sudah masuk ke dalam komponen utama. Cadangan artinya sebelum diaktifkan negara sudah harus mempersiapkan mereka untuk dipakai ketika diperlukan.

Indonesia merencanakan untuk memiliki komponen cadangan sebanyak 160.000 orang sampai tahun 2029. Dengan komposisi 130.000 untuk AD, 20.000 untuk AL dan 10.000 untuk AU. Proyek ini akan dimulai pada tahun 2010, sehingga berlangsung selama 20 tahun (termasuk tahun 2010-nya). Artinya, setiap tahun akan direkrut 8.000 orang untuk masuk ke dalam komponen cadangan. Jumlah tersebut akan diambil dari tiap kabupaten di Indonesia yang berjumlah sekitar 400. Artinya, setiap tahun dari setiap kabupaten hanya akan diambil 20 orang. Artinya, kekuatiran mengenai komponen cadangan Indonesia akan bersifat massal sama sekali tidak benar dan sistem ini bukanlah sistem wajib militer.

UU Komponen Cadangan tidak ditujukan untuk membentuk sebuah sistem wajib militer. Ada kesalahan persepsi mengenai UU tersebut di khalayak ramai yang diakibatkan antara lain oleh kesalahan sosialisasi yang dilakukan sendiri oleh Dephan. Sebenarnya, ada tiga mekanisme yang bisa dilakukan untuk membentuk komponen cadangan. Pertama adalah regular reserve force. Warga negara diberi hak untuk melakukan bela negara dan kemudian warga negara tersebut akan dilatih sehingga memiliki kemampuan yang sama dengan kekuatan utama. Biasanya mekanisme ini didasarkan pada kesukarelaan peserta. Negara mengumumkan penerimaan dan orang-orang tersebut akan mendaftar. Kanada memakai sistem ini untuk 40.000 komponen cadangannya. Hanya saja, kompensasinya tinggi. Gaji setiap hari $88, ada tunjangan kesehatan, liburan dan kesehatan gigi untuk masa tugas tiga tahun. Jika dia ditawari dan setuju untuk memperpanjang masa tugas untuk lima tahun lagi, maka gaji per harinya akan menjadi $120. Mekanisme ini dipakai juga di Inggris dan Australia.

Mekanisme kedua dalam pembentukan komponen cadangan adalah wajib militer. Dengan sistem ini, negara memanggil warga negara untuk dilatih, dan warga negara itu tidak boleh mengelak panggilan tersebut. Sistem ini disebut juga dengan sistem Konskripsi (Conscript). Amerika Serikat memakai sistem ini. Prajurit-prajurit yang dulu dikirim ke Vietnam dan sekarang dikirim ke Irak adalah sebagian prajurit-prajurit wajib militer. Sistem ini membutuhkan sistem pelatihan fisik yang bagus, bahkan semenjak tingkat SD. Ini perlu agar setiap warga negara dilatih fisiknya semenjak dini sehingga pada saat terkena wajib militer kemampuan dasarnya sudah ada. Itulah sebabnya hampir semua negara barat memiliki pusat olahraga sekolah yang bagus. Selain Amerika, negara lain yang memakai sistem ini adalah Jerman, Belgia, Korea, Singapura dan Malaysia. Dephan tidak memakai mekanisme ini tapi mekanisme yang pertama seperti di Kanada.

Mekanisme ketiga adalah kewajiban milisi. Ini tidak sama dengan kelompok milisi. Mekanisme ini adalah kewajiban warga negara untuk membela negara pada saat negara memanggil dalam kondisi darurat. Misalnya negara diserang, maka negara berhak menyatakan dalam kondisi darurat perang lalu memanggil semua warga negaranya untuk melakukan pembelaan. Warga negara yang menolak harus diberi hukuman, karena warga negara sudah menikmati berbagai fasilitas dari negara.

Kesalahan lain adalah UU menyebutkan pemerintah bisa menggunakan komponen cadangan untuk semua konflik, termasuk konflik dalam negeri. Komponen cadangan seharusnya tidak boleh digunakan dalam konflik internal karena sama saja dengan mengadu sesama warga negara Indonesia. Jadi, komponen cadangan digunakan untuk menghadapi ancaman dari luar, atau penanggulangan bencana, dan terakhir untuk operasi pemeliharaan perdamaian.

Sedangkan yang dimaksud komponen pendukung adalah penggunaan sumber daya lain untuk menyokong keperluan militer dalam keadaan perang. Misalnya, seberapa banyak yang bisa disediakan pabrik Aqua untuk menyuplai logistik prajurit, atau berapa persen dari produksi yang bisa disediakan pabrik ban Intirub untuk ban panser dan kendaraan militer lainnya.

Kesalahan dalam UU Komponen Cadangan kita menyangkut komponen pendukung adalah, UU tersebut menyatakan untuk membentuk komponen cadangan dan komponen pendukung, aset-aset yang dimiliki swasta atau perorangan boleh diambil alih oleh negara. Menurut Mas Edy, negara harus menyatakan keadaan darurat dulu sebelum pengambilalihan aset-aset tersebut dilakukan. Dan pengambilalihan itu pun harus dibarengi kompensasi, misalnya pengurangan pajak. Lebih lanjut lagi, menurutnya yang harus dilakukan adalah melakukan sebuah kebijakan industri yang mengharuskan industri siap menyokong keperluan perang sewaktu-waktu dibutuhkan.

Misalnya, pabrik baja harus mampu menyuplai 5% dari kemampuan produksinya untuk menyuplai senapan atau material pembuat peluru. Sehingga pada saat dibutuhkan pabrik baja itu sudah siap membuat senapan atau peluru sebanyak 5% dari kemampuan totalnya. Pada masa damai, kemampuan 5% itu tidak boleh digunakan oleh negara atau pabrik tidak boleh diambil alih oleh negara.

Contoh lain penggunaan sumber daya adalah berapa persen dari jalan raya kita yang bisa didarati oleh pesawat-pesawat tempur. Singapura dan Korea Selatan memiliki jalan-jalan yang superlebar sebagai persiapan bila sewaktu-waktu dalam keadaan perang bandara-bandara mereka dibom, mereka bisa mendaratkan pesawat-pesawat mereka di jalan raya. Gedung-gedung parkir bawah tanah adalah contoh berikutnya. Siapkah gedung-gedung parkir tersebut dijadikan bunker apabila diperlukan? Siapkah pelabuhan-pelabuhan untuk mobilisasi pasukan?

Itulah yang disebut dengan sistem pertahanan semesta. Sistem inilah yang sekarang sedang dicoba dibuat menjadi operasional, dan bukan hanya bersifat normatif di atas kertas dan hanya dalam undang-undang.

Setelah itu giliran Happy Bone yang memberikan paparannya. Dia memulai dengan menyatakan pertahanan semesta adalah sistem yang mengakomodasi semua elemen bangsa di samping kekuatan utama untuk mempertahankan bangsa dan negara, termasuk komponen yang kasat mata maupun yang tidak.

Masalah pertahanan semesta ini seperti benang kusut, perdebatannya berlarut-larut, belum bisa ada solusi. Kenapa? Karena pertahanan semesta terkait dengan postur pertahanan. Postur pertahanan ini yang belum jelas formulanya. Saat ini di setiap angkatan setiap berubah kepala staf berubah pula kebijakannya. Misalnya untuk AL, apakah kita termasuk Brown Navy, Blue Navy ataukah, Green Navy? Ini perlu untuk ditentukan karena nantinya akan berpengaruh terhadap postur angkatan laut kita dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk AL.

Postur pertahanan juga terkait dengan masalah profesionalisme. Artinya terkait dengan pemisahan antara TNI dan Polri, juga dilarangnya TNI untuk melakukan bisnis. Sampai saat ini, profesionalisme itu belum kunjung tercapai. Hal ini terlihat dari seringnya terjadi bentrokan antara TNI dengan Polri. Terjadi 44 konflik, di antaranya bersenjata, antara mereka setelah dua institusi tersebut dipisahkan. Bentrok ini bahkan sampai meminta korban jiwa. Bentrok ini bisa berawal dari masalah kesenjangan sosial antara prajurit TNI dengan Polri.

Akar permasalahannya adalah anggaran. Anggaran TNI sekarang adalah 35 trilyun (sebelumnya 20, 23, dan 28 T). Sedangkan kebutuhan minimal TNI sekarang adalah 127 trilyun (naik dari 100 T). Ini menyebabkan TNI tidak bisa melakukan pembelian-pembelian alutsista yang diperlukan, bahkan untuk pemeliharaan pun perlu dilakukan kanibalisme. Misalnya, dari lima pesawat yang ada, satu harus dikanibal oleh pesawat lainnya, dalam arti suku cadang pesawat yang satu itu harus digunakan oleh empat pesawat sisanya untuk mengudara.

Sekarang sedang diupayakan “penyegaran” kembali terhadap kapal-kapal selam Indonesia yang hanya dua buah. Bandingkan dengan Singapura yang memiliki delapan kapal selam kelas kilo untuk wilayah perairannya yang jauh lebih kecil daripada Indonesia. Happy Bone berseloroh, “Itupun kedua-duanya bermasalah. Yang satu susah nyelam. Yang satu, kalau udah nyelam, susah timbul.”

Happy Bone juga kemudian bercerita mengenai hasil kunjungannya ke Ambalat sewaktu konflik yang baru lalu. Dia mendengar cerita ini dari Panglima Armada Barat (Pangamabar).

“Kan kapal Frigate kita terbuat dari fiber. Itu pun sudah tua. Tapi di dalamnya persenjataannya masih ada, meskipun agak tua juga. Kemudian kita (kapal itu) diganggu oleh Malaysia. Kapal-kapal Malaysia dari baja. Jadi kalau mereka mengganggu mereka tidak perlu menembak, karena pasti akan terkena sanksi hukum internasional. Jadi dia cukup lewat dalam radius berapa meter, maksimal 50 meter, dari kapal kita dan ombaknya akan membuat kapal kita lompat-lompat. Bisa dibayangkan si prajurit di dalamnya lompat-lompat! Para prajurit itu kesal, karena Malaysia tidak menembak tapi sudah bisa mengganggu. Ada seorang prajurit yang sudah sangat kesal, tapi disuruh bersabar oleh komandannya dan diperingatkan jangan sampai menembak kapal itu, karena nanti justru kita yang dikenai sanksi hukum internasional, dan mereka memang memancing kita untuk menembak.

“Tapi beberapa kali begitu, dan beberapa kali muntah-muntah, si prajurit tidak bisa lagi menahan kekesalannya, dia ambil meriam dan dia tembakkan ke arah kapal Malaysia. Pas dia mau nembak, macet! Si komandan lalu melihat hal itu dan langsung ditempeleng ‘Buak, buak!’ dan dimarahi. ‘Untung meriamnya sudah tua jadi macet! Coba kalau tidak!’ kata si komandan.”

Masalah tidak hanya terlihat di masalah alutsista, tapi juga di kesejahteraan prajurit. Happy Bone mengungkapkan pengalamannya di Atambua, di daerah perbatasan Di sana dia bertemu dengan prajurit-prajurit dari Korea, Australia, Malaysia, Singapura. Katanya, prajurit-prajurit asing itu gagah, tegap, muda dan tampan. Sedangkan prajurit kita matanya merah, loyo, kurang gizi. Ternyata mereka kurang tidur karena jaga malam, dan hanya ditemani oleh kopi dan hanya makan nasi, mie instan, dan ikan asin. Sementara, makanan prajurit-prajurit asing itu adalah makanan kalengan yang gizinya ditakar secara khusus.

Kalori yang diperlukan seorang prajurit adalah 1800 Kalori. Kalori sebanyak itu bisa didapatkan dengan uang Rp85.000,- Tapi uang lauk pauk prajurit TNI hanya Rp35.000,- itupun sering harus dipotong untuk dikirim ke anak-istrinya di kampung halaman.

Begitu juga dengan seragam. Setahun hanya dapat satu kali. “Kalau kita dekat-dekat mereka kasihan juga, bau ketiaknya gak tahan,” demikian ujar Happy Bone.

Dengan demikian, masalahnya ada TNI dituntut untuk menjadi profesional dengan mundur dari politik dan bisnis, tapi anggarannya cekak. Belum lagi adanya keinginan untuk membentuk komponen cadangan dan komponen pendukung. Untuk memperlengkapi 160.000 komponen cadangan itu, dari mana anggarannya mau diambil? Yang ada saja sekarang tidak optimal, karena dari kebutuhan 127 triliyun hanya dipenuhi 35 trilyun.

Kekhawatiran Happy Bone, karena kesejahteraan yang kurang itu, anggota TNI di daerah-daerah akan melakukan sesuatu yang di luar tugas pokoknya, misalnya jadi beking dan rebutan wilayah.

Dia berpendapat, profesionalisme TNI akan bisa terjadi kalau TNI ditempatkan di bawah supremasi sipil. Jadi, TNI tidak boleh mengatur anggarannya, tapi harus diatur anggarannya. Ini menimbulkan kesulitan lain, karena artinya anggaran itu diatur oleh DPR sebagai representasi supremasi sipil. Bagaimana DPR bisa melakukan kontrol terhadap TNI kalau dia sendiri tidak mengerti tentang alutsista, tugas pokok TNI, tugas nonpokoknya. Misalnya tentang tipe-tipe kapal selam, atau tipe-tipe Sukhoi yang setiap tipe berbeda harganya, tugas nonpokok TNI yang ada 14 butir, dll.

Komisi I yang sekarang ini pengetahuan sudah lumayan, meskipun masih jauh dari yang pengetahuan idealnya. Happy Bone masih merasa sebagai tukang stempel saja, belum memiliki kekuatan untuk melakukan penolakan bila permintaan tidak sesuai dengan efisiensi, dll. Oleh karena itu, dia berpikir tentang pemilu berikutnya yang akan diikuti oleh pelawak dan artis. “Pelawak ngomongin tentang senjata yang diawaki. Gimana itu kira-kira ya?”

Jadi, Happy Bone melihat semua pembicaraan tentang komponen cadangan dan komponen pendukung akan kembali kepada anggaran. Selama anggaran itu belum bisa dipenuhi, semua hanya berupa wacana yang entah kapan dapat direalisasikan. Anggaran dapat diwujudkan apabila ada terobosan dari pemerintah. Misalnya, dalam menangani penebangan liar di hutan-hutan Kalimantan yang merugikan negara ratusan trilyun setiap tahunnya. Belum kerugian dari pertambangan liar dan illegal fishing.

Setelah itu seminar diisi dengan tanya-jawab, yang karena tidak saya rekam jadi saya tidak bisa menuliskannya di sini.

Pada intinya saya setuju dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat militernya dengan membeli persenjataan baru. Dari hasil penelitian Andi Widjajanto, seorang peneliti militer CSIS, yang terbit tahun 2006, disarankan TNI tidak melakukan pembelian alat-alat militer baru sampai tahun 2013. Ini dilakukan untuk menghentikan ketergantungan berlebih TNI kepada senjata yang standar NATO, yang notabene adalah dari Amerika Serikat.

Setelah itu, barulah kita beli lagi alat-alat militer baru. Mulai dari nol. Ini mungkin ada baiknya, tapi juga mungkin beresiko. Sambil menunggu tahun 2013, apa yang akan dilakukan kalau ada serangan dari dalam maupun luar negeri?

Demikian juga saya setuju dengan pembentukan komponen cadangan. Toh dilakukan dengan cara sukarela. Toh tidak akan ada perekrutan massal warga negara. Bisa saja ini membantu masalah pengangguran yang melanda negeri ini.

Tapi sekali lagi, betul sekali masalahnya ada pada dana. Itu sebabnya berbagai kasus hukum yang menyangkut kerugian negara dalam hal keuangan harus diselesaikan dan dituntaskan, serta uang hasil kejahatan itu dikembalikan kepada negara. Uang itulah yang bisa kita gunakan tidak saja untuk membangun kekuatan persenjataan yang mumpuni, tapi juga pembangunan di bidang lain yang selama ini terbengkalai seperti pendidikan dan kesehatan.

Presiden Terpilih Satrio Pinandita

In GlobalVillage, Pemuda Bani Tamim, Posmo, Satrio Pinandito, Siapakah Imam Mahdi, Warisan Bung Karno, indonesia emas, pemilu 2009 on January 15, 2009 at 8:42 am
Satria Pinandita Presiden Terpilih 2009

Satria Pinandita Presiden Terpilih 2009

Tokoh ini dipercaya untuk menggantikan masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Tokoh ini disebut sebagai seorang spiritualis sejati.
Sejatinya satrio pinandita adalah satrio piningit yang sudah menjalani masa penggodokan dan masa pematangan dalam hal bersikap dan kepemimpinan.

Ki Ronggowarsito meramalkan adanya tujuh (7) satria yang akan akan memimpin bangsa ini dan memimpin negara seluas Majapahit. Susilo Bambang Yudhoyono dipercayai sebagai tokoh Satrio boyong pambukaning gapuro. Yaitu tokoh yang akan membuka gerbang mercusuar Indonesia dengan membangun sistem tanpa menikamti. Semoga pahalanya diberi balasan yang setimpal oleh Allah SWT. Tokoh Satrio pinandito ini akan berlaku sesuai petunjuk wahyu sehingga mencapai era keemasan Bangsa Indonesia. Mengantarkan bangsa Indonesia menyambut era kalasuba.

Pemerintahan Indonesia Baru

In kitab musasar jayabaya on January 13, 2009 at 9:52 am

Indonesia Baru Tahun Kerbau 2009

In indonesia emas on January 8, 2009 at 11:01 am
nusantara baru

nusantara baru

Selamat Tahun Baru. Sekarang ini Indonesia memasuki era Kala Suba, kala dimana berakhirnya zaman penderitaan hidup yang disebut zaman kala  bendu. Akhir dari kala bendu ini ditandai dengan adanya pergantian tahun dari tahun 2008 ke tahun 2009.

Salah satu cara Bank Indonesia menahan merosotnya nilai Rp dan laju inflasi adalah dengan menaikkan suku bunga bank (Rumus 1). Suku bunga deposito pernah mencapai 66%/tahun. Setelah itu perlahan-lahan menurunkan suku bunga bank (Rumus 2), sampai pada tingkat yang wajar, misalnya suku bunga deposito 20%/tahun, dan nilai US$1,- = Rp7.000,-.

Permasalahan bangsa adalah permasalahan kita semua. Salah satu hadist Nabi yang memerintahkan kita untuk kembali melihat ke belakang dan melihat ke depan ke arah perbaikan adalah sebagai berikut:

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin, maka dia telah merugi, barang siapa yang harinya lebih baik dari hari kemarin, maka dia telah beruntung, dan barang siapa yang harinya lebih buruk dari hari kemarin, maka dia telah celaka.”

Dari hadist ini kita dapat merasakan penderitaan hidup berlebihan dan memohon ampunan dari Allah agar bangsa Indonesia keluar dari kemelut yang berkepanjangan. Tahun 1430 H, atau tahun 2009 M adalah tahun atau era kebangkitan islam di masa ini. Masa penuh tantangan kehidupan, masa dimana Bangsa Indonesia tengah diuji penderitaan dan menjadi bangsa yang mumpuni dalam hal menanggulangi persoalan hidup.

Sebuah harapan dipenghujung kala bendu

Sebuah harapan itu adalah sebuah asa yang hilang, dimana Allah akan menghajar orang-orang yang membuat harapan bangsa lain punah dan bangsa Indonesia kembang kempis. Itulah dinamakan buah karma perbuatan kita. Dalam sebuah hadist disebutkan tanda-tanda pergantian zaman. Salah satunya adalah jika zakat telah dijadikan hutang, maka tunggulah bala yang akan terjadi di muka bumi. Itu salah satu ciri-ciri pergantian zaman. Semoga bangsa Indonesia mendapatkan cita-cita bangsa yaitu mencapai kesejahteraan di segala bidang. Tahun ini adalah tahun pertobatan dan menyesali segala kesalahan kita, demi tercapai kemajuan yang berarti. Secercah kehidupan ada di depan mata. Selamat datang tahun 2009.
 
 

 

sunrice

sunrise

Memahami Metode Dakwah Walisongo

In Perekonomian Syariah, Satrio Pinandito, indonesia emas, religius on January 7, 2009 at 4:26 pm

Walisongo

Walisongo

Memahami Metode Dakwah Walisongo

Tanggal: Kamis, 08 Januari 2009
Topik: Sejarah Islam

Telah masyhur di kalangan sejarawan, ulama, dan tokoh lainnya bahwa Islam tersebar luas di Indonesia atas jasa Walisongo dan murid-muridnya. Sebelumnya, usaha dakwah telah dilakukan orang, tapi lingkupnya sangat terbatas.

Harian Duta Masyarakat mengungkap, sebenarnya Islam masuk Nusantara sejak zaman Rasulullah. Yakni berdasarkan literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Kemudian Marcopolo menyebutkan, saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H/1292 M, telah banyak orang Arab menyebarkan Islam. Begitu pula Ibnu Bathuthah, pengembara muslim, yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H/1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafii. Tapi baru abad 9 H (abad 15 M) penduduk pribumi memeluk Islam secara massal (Duta Masyarakat, 28-30 Maret 2007). Masa itu adalah masa dakwah Walisongo.

Dakwah Kultural

Berbeda dengan dakwah Islam di Asia Barat, Afrika, dan Eropa yang dilakukan dengan penaklukan, Walisongo berdakwah dengan cara damai. Yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya Islam dan budaya lokal). Dakwah mereka adalah dakwah kultural.

Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Hal ini dijelaskan—baik semua atau sebagian—dalam banyak sekali tulisan seputar Walisongo dan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Misalnya, dalam Ensiklopedi Islam; Târikhul-Auliyâ’ karya KH Bisri Mustofa; Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya KH Saifuddin Zuhri; Sekitar Walisanga karya Solihin Salam; Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya karya Drg H Muhammad Syamsu As.; Kisah Para Wali karya Hariwijaya; dan Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA.

Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut. Budaya dan tradisi lokal itu oleh Walisongo tidak dianggap “musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan “teman akrab” dan media dakwah agama, selama tak ada larangan dalam nash syariat.

Pertama-pertama, Walisongo belajar bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adat, serta kesenangan dan kebutuhan masyarakat. Lalu berusaha menarik simpati mereka. Karena masyarakat Jawa sangat menyukai kesenian, maka Walisongo menarik perhatian dengan kesenian, di antaranya dengan menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan pertunjukan wayang dengan lakon islami. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu’, shalat, dan sebagainya.

Walisongo sangat peka dalam beradaptasi, caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi diisi pembacaan tahlil, doa, dan sedekah. Bahkan Sunan Ampel—yang dikenal sangat hati-hati—menyebut shalat dengan “sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang) dan menamai tempat ibadah dengan “langgar”, mirip kata sanggar.

Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan genteng bertingkat-tingkat, bahkan masjid Kudus dilengkapi menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren yang—menurut sebagian sejarawan—mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik cantrik dan calon pemimpin agama.

Bagaimana Memahaminya?

Sebagian pihak mempermasalahkan metode dakwah Walisongo tersebut. Sebagian mempertanyakan kesesuaiannya dengan dalil syar’i. Sebagian lagi bahkan berani menyalahkan peninggalan para ulama-wali itu. Hal ini terutama dilakukan kaum modernis yang dipengaruhi pemikiran Wahabi yang kaku.

Bila mau berpikir jernih dan bijak, metode dakwah Walisongo tidak selayaknya dipertanyakan. Bahkan semestinya dipuji, karena terbukti kesuksesannya. Untuk dapat memahami mengapa Walisongo menerapkan metode dakwah semacam itu, beberapa hal perlu dilakukan.

Pertama, mempelajari sejarah mereka secara mendalam. Sebagaimana disebut di atas, banyak bacaan tentang sejarah Walisongo. Bacaan-bacaan tersebut bersumber dari kitab, babad, dan serat kuno, di antaranya Kitâb Kanzul Ulûm Ibnul Bathuthah; Babad Tanah Jawi; Babad Majapahit lan Para Wali; Hikayat Hasanuddin; Wali Sanga Babadipun Para Wali; dan Serat Centhini. Tulisan di masjid dan makam Walisongo juga dijadikan sumber. Beberapa buku orientalis juga dijadikan sumber, tapi para sejarawan Islam bersikap selektif dan hati-hati dalam mengutip keterangan dari non muslim ini.

Kedua, selalu mengingat bahwa Walisongo ulama yang alim, yang tak akan sembarangan dalam berbuat. Menurut Kitâb Kanzul Ulûm Ibnul Bathuthah, Walisongo adalah sembilan ulama berilmu agama tinggi serta mempunyai karamah, yang diutus Sultan Muhammad I Turki untuk menyebarkan Islam di Jawa. Bila salah satu pergi atau meninggal, maka segera digantikan wali lain.

Sunan Bonang meninggalkan Primbon Wejangan Sunan Bonang berisi Fikih, Tauhid, dan Tasawuf, di antaranya berdasarkan Ihyâ’ Ulûmid-dîn al-Ghazali, al-Anthâki dari Dawud al-Anthaki, dan kitab Syekh Abdul Qodir al-Jailani. Menurut Muhammad Syamsu As., ajaran Sunan Bonang mengikuti akidah Ahlusunah wal Jamaah dengan mazhab Syafii, dan mewakili ajaran semua Walisongo.

Masih menurut ia, Sunan Giri dinamai Sultan Abdul Faqih, karena Ilmu Fikihnya sangat mendalam, ia mengajar Ilmu Fikih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Nahwu, dan Sharaf; Sunan Kudus dijuluki Waliyul Ilmi, menguasai Ilmu Ushul Hadits, Ilmu Tafsir, Ilmu Sastra, Manthiq, dan terutama Ilmu Fikih; dan Sunan Gunung Jati mempelajari Ilmu Syariat, Hakikat, Thariqat, dan Ma’rifat.

Ketiga, mempelajari metode dakwah Nabi Muhammad e, sahabat, dan ulama salaf sebagai perbandingan. Setelah diteliti, ternyata dakwah Walisongo yang bijak dan halus sesuai dengan dakwah Nabi. Dakwahnya sesuai ayat, “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS an-Nahl [16]: 125). Dan ayat, “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS Ali Imran [3]: 159). Juga pesan Nabi saat mengutus Abu Musa dan Mu’adz berdakwah, “Mudahkanlah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat (objek dakwah) lari!” (HR Muslim). Dan Hadits dari Siti Aisyah, “Rasulullah memerintah kami menempatkan (memperlakukan) manusia sesuai keberadaan (akal) mereka.” (HR Abu Dawud)

Tentang Walisongo membuat tembang dan puji-pujian Jawa, hal ini sebagaimana sahabat dan ulama salaf membuat syair-syair keagamaan Arab. Bahasanya saja beda. Tentang membuat dan menggunakan gamelan serta beduk, kemungkinan besar berpedoman pada pendapat al-Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmid-dîn bahwa alat musik yang dilarang hanya yang disebut dalam Hadits.

Tentang pertunjukan wayang, awalnya Sunan Giri tak setuju, tapi akhirnya beliau dan wali lainnya menyetujui setelah Sunan Kalijogo mengusulkan wayang diubah bentuknya: tangan lebih panjang dari kaki, hidung panjang-panjang, kepala agak menyerupai binatang, dan lain-lain agar tak serupa persis dengan manusia. Tentang membakar kemenyan, bukan untuk arwah orang mati, tapi untuk mengharumkan ruangan dan karena Nabi suka wangi-wangian.

Keempat, selalu husnudh-dhan (berbaik sangka) pada Walisongo. Apabila ada metode dakwah mereka yang tampak kurang sesuai syariat, sebaiknya menganggap (1) mungkin sumber/penulis sejarahnya yang keliru, bukan Walisongo; dan (2) mungkin diri kita yang belum memahami/menemukan dalil dan pendapat ulama salaf yang mereka gunakan.

Jika tidak husnudh-dhan, kita akan menyalahkan mereka seperti kaum Wahabi dan modernis menyalahkan para ulama. KH Hasyim Asy’ari dalam Risâlah Ahlussunah wal Jamâ’ah mengutip ucapan Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i, “Mereka (Wahabi dan yang sealiran) golongan yang bermain-main dengan agama, mereka mencela para ulama salaf dan khalaf, dan mengatakan, ‘Mereka itu tidak ma’shum (terjaga dari dosa seperti Nabi), maka tidak selayaknya mengikuti mereka.’” Na’ûdzu billâh. Walisongo memang tidak ma’shûm, tapi bukan muqashshir (orang sembrono), apalagi jâhil (orang bodoh). Mereka mahfûdz (terjaga dari dosa, sebagai wali Allah) dan ulama yang alim.

Dan kelima, selalu menghormati Walisongo sebagai penyebar Islam dan guru. Seandainya bukan karena mereka, mungkin kita saat ini beragama Hindu atau Budha seperti nenek moyang kita. Walisongo guru kita, karena nenek moyang kita belajar pada mereka atau murid-murid mereka; dan kiai serta guru kita masa sekarang—utamanya di pesantren—belajar pada gurunya, gurunya belajar pada gurunya lagi, terus sampai Walisongo. Karena itulah para ulama dan habaib mengamalkan ajaran Islam tradisionalis Walisongo, bahkan beberapa menulis kitab/buku untuk membelanya. Masyarakat umum juga ikut mengamalkannya.

Walhasil, Walisongo adalah ulama-wali yang alim dan bijak. Mereka dan metode dakwah serta peninggalannya seyogianya dihormati. Nabi bersabda pada Sayidina Ali, “Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk pada seseorang (hingga masuk Islam) melalui kamu itu lebih baik bagimu daripada memperoleh unta merah” (HR Bukhari-Muslim). Nabi juga bersabda, “Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, dia mendapat pahala sebagaimana orang yang melakukannya” (HR Muslim). Hadits terakhir ini, menurut Sayid Alawi bin Abbas al-Maliki, menunjukkan keutamaan ilmu dan bahwa Nabi mendapat pahala seperti pahala seluruh umatnya, sejak diutus sampai Kiamat. Maka begitu pula Walisongo, sebagai penyebar Islam “pertama”, mereka mendapat pahala seperti pahala semua umat Islam Indonesia, sejak dakwahnya sampai Kiamat.[]

Sumber Tulisan:

Asnan Wahyudi & Abu Khalid MA. Tanpa tahun. Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa. Surabaya: Karya Ilmu.

Dewan Penterjemah Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al Qur’an. 1971. Al Qur’an dan Terjemahnya. Medinah: Mujamma’ Khadim al Haramain asy Syarifain al Malik Fahd li Thiba’at al Mush-haf asy-Syarif.

Harian Duta Masyarakat, 28 Maret 2007; 29 Maret 2007; 30 Maret 2007.

Hariwijaya. 2003. Kisah Para Wali. Yogyakarta: Nirwana.

Hasyim Asy’ari, KH. Tanpa tahun. Risâlah Ahlussunah wal Jamâ’ah. Pasuruan: Pustaka Sidogiri.

Imam al-Ghazali. 2002. Ihyâ’ Ulûmid-dîn. Juz II. Beirut Lebanon: Darul Fikr.

Imam an-Nawawi. 2001. Riyâdhush-Shâlihin. Beirut Lebanon: Darul Fikr.

Muhammad Syamsu As, Drg. H. 1996. Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya. Jakarta: Lentera.

Nur Amin Fattah. 1994. Metode Da’wah Walisongo. Semarang: CV Bahagia.

Sayid Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani. Tanpa tahun. Fathul-Qarîb al-Mujîb ‘alâ Tahdzîbi at-Targhîb wa at-Tarhîb. Mekah: al-Haramain.

Uang Rectoverso

In BLT, Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Departemen Sosial, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Koordinator Perekonomian, Perdagangan, Perekonomian Syariah, Perindustrian, indonesia emas on January 7, 2009 at 3:21 pm
Uang 100 Ribu

Uang 100 Ribu

Uang Rectoverso adalah uang dimana ada gambar didepan dan dibelakang. Jika diterawang maka akan terlihat gambar yang berbeda, satu di depan dan satu di belakang. Gambar yang tersembunyi itu harus dilihat dengan mata bathin atau dilihat melalui cahaya terang. Jika kita menggunakan mata biasa, maka gambar tersebut tidak akan kelihatan.

Nilai mata uang rectoverso tidak bisa dipalsukan. Hanya saja akan bermanfaat jika diproduksi oleh Bank yang berwenang. Perbedaan dengan mata uang zaman Bung Karno, mata uang ini lebih menyala dan lebih terang. Itulah manfaat teknologi untuk membuat uang yang bisa dipasarkan.

Berikut contoh mata uang zaman dahulu yang sudah lusuh.

100

Uang rectoverso lebih stabil dan lebih aman untuk dipasarkan. Uang lusuh tidak stabil karena sudah kadaluarsa dan nilai devaluasinya semakin meningkat. Berbeda dengan uang rectoverso yang nilai kertasnya bisa dipertahankan, tidak lekang dimakan zaman. Apalagi jika uang ini dipatokkan kepada nilai emas, maka perekonomian insya Allah bisa membaik.

Economi Islam

In Departemen Keuangan, Departemen Sosial, Kementerian Koordinator Perekonomian, Perdagangan, Perekonomian Syariah, Perindustrian, kitab musasar jayabaya on January 7, 2009 at 12:27 am
Ekonomi Syariah

Ekonomi Syariah

0 Akad Mudharabah Musytarakah


 

FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
NO: 50/DSN-MUI/III/2006
Tentang
AKAD MUDHARABAH MUSYTARAKAH


Menimbang :
Mengingat :
Memperhatikan :
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : FATWA TENTANG AKAD MUDHARABAH MUSYTARAKAH

Pertama : Ketentuan Umum

    Mudharabah Musytarakah adalah bentuk akad Mudharabah di mana pengelola (mudharib) menyertakan modal atau dananya dalam kerjasama investasi.

Kedua : Ketentuan Hukum

    Mudharabah Musytarakah boleh dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS), karena merupakan bagian dari hukum Mudharabah.

Ketiga : Ketentuan Akad

  1. Akad yang digunakan adalah akad Mudharabah Musytarakah, yaitu perpaduan dari akad Mudharabah dan akad Musyarakah.
  2. LKS sebagai mudharib menyertakan modal atau dananya dalam investasi bersama nasabah.
  3. LKS sebagai pihak yang menyertakan dananya (musytarik) memperoleh bagian keuntungan berdasarkan porsi modal atau yang disertakan.
  4. Bagian keuntungan sesudah diambil oleh LKS sebagai musytarik dibagi antara LKS sebagai mudharib dengan nasabah dana sesuai dengan nisbah yang disepakati.
  5. Apabila terjadi kerugian maka LKS sebagai musytarik menanggung kerugian sesuai dengan porsi modal atau dana yang disertakan.

Keempat : Ketentuan Penutup

  1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
  2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

 

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 23 Shafar 1427 / 23 Maret 2006