Keadaan era menjelang kedatangan satrio Pandito Sinisihan Wahyu bisa dilihat pada bait 140 ke atas dari ramalan jayabaya. Prabu Jayabaya merupakan buah cinta dari kisah romantis Raden Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Chandra Kirana, yang memerintah Kerajaan Kediri sekitar tahun 1135 sampai dengan tahun 1159.Isi ramalan tersebut adalah sebagai berikut:
140.
polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati
tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal
Penafsiran: Tingkah laku orang jawa tidak berarti seperti gabah ditampi, bercampur-baur tidak ada yang bisa dipegang, mana yang benar mana yang asli sulit untuk ditemui. Para pertapa semua tidak berani dan takut menyampaikan ajaran yang benar, karena takut akan kekuasan pemerintah, dan takut akan menemui ajal jika menyampaikan ajaran yang benar.
polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal
141.
banjir bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya
142.
pancen wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha
menyaksikan zaman gila
tidak ikut gila tidak dapat bagian
yang sehat pada olah pikir
para petani dibelenggu
para pembohong bersuka ria
seuntung-untungnya yang lupa,
masih beruntung yang ingat dan waspada
143.
ratu ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya
banyak rumah di atas kuda
orang makan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
katanya enak serasa kue bolu
malam hari semua tak bisa tidur
penafsiran: pemimpin bangsa tidak menepati janji (terjadi pada era megawati), kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya, banyak mobil berkeliaran, manusia makan manusia, banyak terjadi penebangan hutan liar dan penambangan besi, dijual untuk kepentingan sendiri, malam hari tidak bisa tidur karena takut ketahuan tingkah lakunya.
144.
sing edan padha bisa dandan
sing ambangkang padha bisa
nggalang omah gedong magrong-magrong
yang gila dapat berdandan
yang membangkang semua dapat
membangun rumah, gedung-gedung megah
penafsiran: yang gila bisa menghias diri, yang menolak aturan yang benar pada bisa membangun rumah dan gedung-gedung bertingkat.
145.
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes
akeh wong mati kaliren gisining panganan
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara
banyak orang mati kelaparan di samping makanan
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara
146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe
orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak dapat mencuri dibenci
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta musnah tak jelas larinya
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab
penafsiran: orang yang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil, yang tidak bisa mencuri dibenci, yang pinter curang jadi teman, yang benar akan geleng-geleng kepala, orang salah akan senang, banyak harta yang hilang tidak karuan larinya, banyak pangkat dan derajat pada hilang tidak karuan sebabnya.
147.
bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret
sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni
wolak-walike zaman
bumi semakin lama semakin sempit
sejengkal tanah kena pajak
wanita memakai pakaian laki-laki
itu pertanda bakal terjadinya
zaman gonjang-ganjing
penafsiran: bumi semakin lama semakin sempit, karena sudah banyak penduduk dan banyak tempat tinggal, sejengkal bumi diberi pajak, perempuan pada memakai pakaian laki-laki, hal itu pertanda akan menemui zaman yang terbolak-balik nilainya.
148.
akeh wong janji ora ditepati
akeh wong nglanggar sumpahe dhewe
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake hukuming Allah
barang jahat diangkat-angkat
barang suci dibenci
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
manusia senang menipu
tidak melaksanakan hukum Allah
barang jahat dipuja-puja
barang suci dibenci
149.
akeh wong ngutamakake royal
lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale
banyak orang hamburkan uang
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak saudara
banyak ayah lupa anaknya
banyak anak mengusir ibunya
antar saudara saling berbohong
antar keluarga saling mencurigai
kawan menjadi musuh
manusia lupa akan asal-usulnya
penafsiran: banyak orang yang mengutamakan pemborosan harta
lupa saudara lupa sanak
banyak ayah lupa akan anaknya
banyak anak tidak mengakui ibunya
sesama saudara pada cidera
keluarga pada curiga
teman jadi musuh
manusia lupa asalnya




[...] http://satriopinandito.wordpress.com/2008/05/29/ramalan-jayabaya-lanjutan/ [...]
Tulisan anda menarik. Mudah-mudahan bisa dibaca dan dicerna dengan baik dan benar oleh para pembaca/browser.