hadisetyono

Archive for May, 2008

Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu Menurut Hadist Nabi Muhammad saw

In Satrio Pinandito on May 29, 2008 at 10:32 am

Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu Menurut Hadist Nabi Muhammad saw

Rasulullah Bersabda : Daripada Ibnu Umar bahwa Nabi SAW sambil memegang tangan Sayidina Ali baginda bersabda “Akan  keluar dari sulbi ini seorang pemuda yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan. Maka apabila  kamu meyakini demikian itu, hendaklah kamu bersama Pemuda dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia  datang dari sebelah Timur dan Dialah pemegang Panji Panji Al Mahdi. (riwayat at-thabrani) (dari  kitab Al Hawi lil Fatawa oleh Imam Sayuti) Hadist diatas menjelaskan kepada kita, bahwa Kaum Dari Sebelah Timur yang akan mendapatkan kekuasaan yang nantinya akan diserahkan kepada Imam Mahdi, akan dipimpin oleh orang yang disebut sebagai Pemuda Bani Tamim.
Baca Selanjutnya …

Ramalan Jayabaya – Lanjutan

In kitab musasar jayabaya on May 29, 2008 at 10:22 am

Jangka Jayabaya

Keadaan era menjelang kedatangan satrio Pandito Sinisihan Wahyu bisa dilihat pada bait 140 ke atas dari ramalan jayabaya. Prabu Jayabaya merupakan buah cinta dari kisah romantis Raden Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Chandra Kirana, yang memerintah Kerajaan Kediri sekitar tahun 1135 sampai dengan tahun 1159.Isi ramalan tersebut adalah sebagai berikut:

140.
polahe wong Jawa kaya gabah diinteri

endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati

tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal
Penafsiran: Tingkah laku orang jawa tidak berarti seperti gabah ditampi, bercampur-baur tidak ada yang bisa dipegang, mana yang benar mana yang asli sulit untuk ditemui. Para pertapa semua tidak berani dan takut menyampaikan ajaran yang benar, karena takut akan kekuasan pemerintah, dan takut akan menemui ajal jika menyampaikan ajaran yang benar.
 

 

141.
banjir bandang ana ngendi-endi

gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti

banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya
Penafsiran: banyak terjadi bencana alam, banjir bandang dimana-mana, gunung meletus tanpa diminta, tanpa isyarat terlebih dahulu, masyarakat membenci pendeta yang bertapa, karena takut akan terbongkar rahasia sebenarnya siapa dirinya.
 

 

142.
pancen wolak-waliking jaman

amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha

sungguh zaman gonjang-ganjing
menyaksikan zaman gila
tidak ikut gila tidak dapat bagian
yang sehat pada olah pikir
para petani dibelenggu
para pembohong bersuka ria
seuntung-untungnya yang lupa,
masih beruntung yang ingat dan waspada
Penafsiran: Zaman ini zaman yang penuh dengan gonjang-ganjing, menyaksikan zaman gila. Jika tidak ikut gila tidak dapat kebagian, yang sehat pada berolah fikir, para petani dibelenggu tidak bisa leluasa, para pembohong bersuka ria, Namun yang menjadi kehendak ilahi adalah keberuntungan selalu berfihak kepada mereka yang selalu ingat kepada Allah dan waspada terhadap keadaan dirinya.
 

 

143.
ratu ora netepi janji

musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu

raja tidak menepati janji
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya
banyak rumah di atas kuda
orang makan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
katanya enak serasa kue bolu
malam hari semua tak bisa tidur
 
 

 

penafsiran: pemimpin bangsa tidak menepati janji (terjadi pada era megawati), kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya,  banyak mobil berkeliaran, manusia makan manusia, banyak terjadi penebangan hutan liar dan penambangan besi, dijual untuk kepentingan sendiri, malam hari tidak bisa tidur karena takut ketahuan tingkah lakunya.

144.
sing edan padha bisa dandan

sing ambangkang padha bisa
nggalang omah gedong magrong-magrong

yang gila dapat berdandan
yang membangkang semua dapat
membangun rumah, gedung-gedung megah

penafsiran: yang gila bisa menghias diri, yang menolak aturan yang benar pada bisa membangun rumah dan gedung-gedung bertingkat.

145.
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes
akeh wong mati kaliren gisining panganan
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara

orang berdagang barang makin laris tapi hartanya makin habis
banyak orang mati kelaparan di samping makanan
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara
penafsiran : yang berdagang barang makin laris, tetapi hartanya makin habis, karena nilai barang dan uang tidak sepadan, banyak orang mati yang kelaparan di samping makanan yang ada, karena pangan tidak tersebar secara merata, banak orang yang berharta, tetapi hidupnya sengsara, karena hidupnya tidak diatas nilai-nilai kebenaran.
 

 

146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil

sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak dapat mencuri dibenci
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta musnah tak jelas larinya
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

penafsiran: orang yang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil, yang tidak bisa mencuri dibenci, yang pinter curang jadi teman, yang benar akan geleng-geleng kepala, orang salah akan senang, banyak harta yang hilang tidak karuan larinya, banyak pangkat dan derajat pada hilang tidak karuan sebabnya.

147.
bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret

sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni
wolak-walike zaman

bumi semakin lama semakin sempit
sejengkal tanah kena pajak
wanita memakai pakaian laki-laki
itu pertanda bakal terjadinya
zaman gonjang-ganjing

penafsiran: bumi semakin lama semakin sempit, karena sudah banyak penduduk dan banyak tempat tinggal, sejengkal bumi diberi pajak, perempuan pada memakai pakaian laki-laki, hal itu pertanda akan menemui zaman yang terbolak-balik nilainya.

148.
akeh wong janji ora ditepati

akeh wong nglanggar sumpahe dhewe
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake hukuming Allah
barang jahat diangkat-angkat
barang suci dibenci

banyak orang berjanji diingkari
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
manusia senang menipu
tidak melaksanakan hukum Allah
barang jahat dipuja-puja
barang suci dibenci
penafsiran: banyak yang berjanji tetapi tidak ditepati, banyak orang yang melanggar sumpahnya sendiri, manusia pada seneng mengambil yang bukan haknya, tidak bertindak berdasarkan hukum Allah, hal yang jahat dipuja-puja, hal yang suci dibenci.
 

 

149.
akeh wong ngutamakake royal

lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale

banyak orang hamburkan uang
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak saudara
banyak ayah lupa anaknya
banyak anak mengusir ibunya
antar saudara saling berbohong
antar keluarga saling mencurigai
kawan menjadi musuh
manusia lupa akan asal-usulnya

penafsiran: banyak orang yang mengutamakan pemborosan harta

lupa akan kemanusiaan, lupa akan kebajikan
lupa saudara lupa sanak
banyak ayah lupa akan anaknya
banyak anak tidak mengakui ibunya
sesama saudara pada cidera
keluarga pada curiga
teman jadi musuh
manusia lupa asalnya
 
 

 

 

Apa itu Binatang yang Disebut Hermeneutika

In GlobalVillage on May 29, 2008 at 9:25 am

Apa itu Binatang yang Disebut Hermeneutika

Hermeneutika lagi bertrend terutama buat yang berpaham liberal. Istilah hermeneutika berkaitan dengan mitos dewa Hermes yang memiliki kebiasaan “memintal” (spin), yang dalam realitasnya menurut Sayyid Hussain Nasr adalah Nabi Idris AS, karena konon dewa Hermes dalam mitologi Yunani tersebut menyampaikan pula warta para dewa kepada manusia, bahkan bukan hanya sekadar menyampaikan, namun juga memberikan tambahan berupa ulasan. Mitos ini mengungkap dua hal, pertama: memastikan maksud, isi suatu kata, kalimat, teks, kedua: menemukan instruksi-instruksi dibalik simbol. Baca Selanjutnya…

Kalki Avatar adalah Imam Mahdi (part 2)

In Siapakah Imam Mahdi on May 1, 2008 at 3:07 pm

Kalki Avatar

Kalki Avatar


Kalki Avatar

Dalam ajaran Agama Hindu, Kalki (Sansekerta: कल्कि; Jepang: カルキ) (juga disalin sebagai Kalkin dan Kalaki) adalah awatara kesepuluh dan Maha Avatāra (inkarnasi) terakhir Dewa Wisnu Sang pemelihara, yang akan datang pada akhir zaman Kali Yuga ini (zaman kegelapan dan kehancuran). Kata Kalki seringkali merupakan suatu kiasan dari “keabadian” atau “masa”. Asal mula nama tersebut barangkali berasal dari kata “Kalka” yang bermakna “kotor”, “busuk”, atau “jahat” dan oleh karena itu Kalki berarti “Penghancur kejahatan”, “Penghancur kekacauan”, “Penghancur kegelapan”, atau “Sang Pembasmi Kebodohan”. Dalam bahasa Hindi, kalki avatar berarti “inkarnasi hari esok”.

[sunting] Apa yang akan Kalki lakukan?

Berbagai tradisi memiliki berbagai kepercayaan dan pemikiran mengenai kapan, bagaimana, di mana, dan mengapa Kalki Awatara muncul. Penggambaran yang umum mengenai Kalki Awatara yaitu beliau adalah Awatara yang mengendarai kuda putih (beberapa sumber mengatakan nama kudanya “Devadatta” (anugerah Dewa) dan dilukiskan sebagai kuda bersayap). Kalki memiliki pedang berkilat yang digunakan untuk memusnahkan kejahatan dan menghancurkan iblis Kali, kemudian menegakkan kembali Dharma dan memulai zaman yang baru.

[sunting] Ramalan tentang Kalki

Salah satu sumber yang pertama kali menyebutkan istilah Kalki adalah Wisnu Purana, yang diduga muncul setelah masa Kerajaan Gupta sekitar abad ke-7 sebelum Masehi. Wisnu adalah Dewa pemelihara dan pelindung, salah satu bagian Trimurti, dan merupakan penengah yang mempertimbangkan penciptaan dan kehancuran sesuatu. Kalki juga muncul di salah satu dari 18 kitab Purana yang utama, Agni Purana. Kitab purana yang memuat khusus tentang Kalki adalah Kalki Purana. Di sana dibahas kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa Kalki muncul.

Lihat Juga: http://satriopinandito.wordpress.com/2008/05/01/kalki-avatar-adalah-imam-mahdi-as/

Kalki Avatar adalah Imam Mahdi as

In Siapakah Imam Mahdi on May 1, 2008 at 2:35 pm
Kalki Avatar


Ramalan Kemunculan Kalki

Kitab Weda meramalkan avatara Wishnu yang kesepuluh, Kalki, yang akan muncul pada akhir Kali Yuga.

Kitab Wahyu (Revelation), yang merupakan bagian dari Injil, meramalkan bahwa Yesus akan datang kembali. Anehnya, kedua ramalan itu memiliki banyak persamaan.
Mungkinkah keduanya membicarakan tokoh yang sama?

Ramalan tentang kemunculan Kalki avatara, yang sering disebut sebagai avatara kesepuluh Sri Wishnu. Kalki avatara diramalkan akan muncul pada akhir jaman Kali Yuga, yang akan mengawali pergantian memasuki jaman baru, yaitu jaman Satya Yuga.

Konsep Waktu dalam Weda
Sebelum itu, marilah kita telaah terlebih dahulu kosep waktu (kala) menurut
Weda. Dalam Bhagavad-gita 11.23, Sri Krishna menyatakan :
kalo ‘smi loka-ksayakrt
“ Aku adalah waktu, Penghancur besar dunia-dunia”.

Berbeda dengan konsep waktu di negara-negara Barat yang bersifat linier (garis lurus), kitab-kitab Weda memandang realita alam semesta ini dari sudut pandang perputaran atau siklus waktu yang disebut yuga.
Fakta sejarah yang kita alami saat ini hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan siklus waktu semesta yang berjalan secara kekal abadi yang dikenal dengan sebutan kala.
Peristiwa-peristiwa alam disekitar kita memberikan isyarat pembenaran terhadap adanya siklus waktu dalam Weda tersebut.
Lihatlah, musim-musim datang secara berulang : hadirnya musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin, diikuti dengan hadirnya kembali musim semi, musim panas, dan seterusnya.
Hari-hari dalam seminggu datang berulang : Minggu, Senin….Sabtu,…lalu Minggu, Senin…kembali. Siang hari digantikan oleh malam hari…yang disusul dengan hadirnya siang hari kembali.
Bukankah jarum-jarum jam tidak berhenti bergerak setelah semua jarumnya menunjuk angka 12?

Semua itu adalah bagian kecil dari siklus yang lebih besar.

Kalki Avatara, bersenjatakan pedang dan menunggang kuda putih.

Sebaliknya, konsep waktu dalam ilmu pengetahuan modern bersifat linier atau berupa garis lurus.
Dalam konsep mereka, alam semesta ini tercipta, makhluk lain
tercipta, muncullah/diciptakanlah manusia, manusia mencapai pembebasan, lalu alam semesta dileburkan. Titik!
Mereka tidak memiliki informasi atau pengetahuan, misalnya, tentang apakah sebelum penciptaan alam semesta yang sekarang, pernah terjadi penciptaan sebelumnya?
Apa yang terjadi setelah dunia ini kiamat, akankah ada penciptaan selanjutnya? Apa yang terjadi pada diri para makhluk hidup setelah dunia ini kiamat, bukankah roh tidak pernah meninggal?
Kemana perginya roh-roh makhluk hidup itu?
Jawabannya : Allah hu alam. “Hanya Allah yang Tahu”.

Menurut Weda, penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta material ini terjadi secara terus menerus dalam siklus waktu tertentu.
Salah satu siklus waktu atau jaman itu disebut divya-yuga (Rosen, 2002).

Ayat-ayat Weda menguraikan secara rinci, umur atau lamanya masing-masing jaman itu. Masing-masing divya-yuga terdiri dari empat jaman (catur yuga) yang umurnya semakin menyusut :

  • Satya-yuga (disebut pula Krta-Yuga) berlangsung selama 1.728.000 tahun;
  • Treta-yuga berlangsung selama 1.296.000 tahun;
  • Dvapara-yuga selama 864.000 tahun; dan
  • Kali-yuga, jaman kita sekarang ini, akan berlangsung selama 432.000 tahun.

Keempat jaman itu, sesuai sifat-sifatnya masing-masing, kadang dinamai sebagai jaman emas, jaman perak, jaman tembaga, dan jaman besi.

Setelah berakhirnya Kali-yuga, akan terjadi peleburan (pralaya atau kiamat), yang kemudian disusul dengan hadirnya kembali Satya Yuga, diikuti
oleh Treta-yuga, Dvapara-yuga, dan seterusnya.

Disebutkan bahwa sifat-sifat spiritual, moralitas, dan kesalehan manusia semakin merosot dari jaman ke jaman.

Menurut Prof. N. S. Rajaram (1999), berdasarkan perhitungan para ahli Jyothi shastra (ilmu perbintangan Weda), jaman Kali Yuga mulai pada tahun 3102 Sebelum Masehi, bersamaan dengan berakhirnya lila (kegiatan rohani) Sri Krishna di muka bumi ini.

Dengan demikian, sampai dengan tahun 2008 Masehi ini, Kali Yuga telah berlangsung selama 5110 tahun (diperoleh dengan menambahkan angka 3102 dengan 2005). Angka 5110 ini (ada pula yang mencantumkan 5109 atau 5111) dengan mudah dapat kita jumpai pada salah satu sudut atas kalender-kalender Bali. Hal ini menunjukkan bahwa angka penanggalan tahun Kali tersebut telah diterima dan diakui kebenarannya oleh para penyusun kalender Bali.

Saat ini kita berada dalam jaman Kali, atau yang sering dikenal sebagai jaman besi.
Besi adalah logam yang keras, yang mudah menjadi karatan atau korosi.
Sering pula orang menyebut jaman ini jaman edan.
Menariknya, sifat-sifat serta ciri-ciri jaman penuh pertengkaran dan kemunafikan ini telah diramalkan sebelumnya dalam kitab Bhagavata Purana (1.1.10) sebagai berikut :

präyeëälpäyuñaù sabhya
kaläv asmin yuge janäù
mandäù sumanda-matayo
manda-bhägyä hy upadrutäù

“Wahai orang-orang yang terpelajar,
dalam jaman Kali, atau jaman besi,
umur manusia sangat pendek. Mereka
suka bertengkar, malas, mudah
disesatkan (salah pimpin), bernasib
malang, dan diatas segala-galanya,
mereka selalu gelisah.”

Masih perlukah kita ragukan kebenaran ramalan tersebut?
Mari kita telaah bersama. Disebutkan, dalam jaman Kali ini manusia berumur pendek. Paling banter hanya mencapai usia seratus tahun, kebanyakan mati muda.
Kita boleh bangga dengan kemajuan ilmu kedokteran, tapi nyatanya rata-rata manusia hanya berumur 60 atau 70 tahun.
Bandingkan dengan kakek nenek kita yang usianya jauh lebih panjang.
Anehnya, semakin canggih ilmu kedokteran, semakin bermunculan jenis penyakit aneh yang sulit disembuhkan.
Dulu, paling banter orang hanya terkena penyakit beri-beri, busung lapar, raja singa (maaf) atau rematik.

Sekarang ada HIV/AIDS, jantung koroner, flu burung, stroke, hipertensi, dan sebagainya, yang menjadi penyakitpenyakit yang menjadi pembunuh ribuan orang setiap tahunnya.

Hebatnya, obat untuk penyakit tertentu, menghasilkan penyakit baru yang tak kalah ganasnya.
Kecerdasan dan daya ingat manusia juga merosot tajam.
Saat ini, manusia sangat bergantung kepada kalkulator, komputer, PDA, atau alat-alat digital lainnya.
Dulu, kakek nenek kita hanya menggunakan batu tulis untuk mencatat semua pelajaran yang diterimanya di sekolah.
Anehnya, mereka bisa mengingat dan memahami materi pelajaran dengan baik, walaupun setiap saat tulisan itu harus dihapus, karena batu tulis itu digunakan untuk mencatat materi-materi selanjutnya. Ini baru satu dua generasi di atas kita.
Dulu, orang belajar dan hafal Weda hanya dengan cara mendengar dari seorang guru.

Manusia jaman Kali juga sangat malas dan lamban dalam mengerti serta memahami nilai-nilai kerohanian.
Sangat jarang yang tertarik pada hal-hal yang sifatnya spiritual.
Kata “mandah” berarti lamban atau malas, bahwa orang-orang pada jaman Kali sangat malas untuk mengerti kerohanian, sebaliknya, sangat lincah dalam mengejar dan memburu keduniawian.
Ciri lainnya, jaman Kali dipenuhi oleh kekalutan dan pertengkaran.
Orang sangat mudah berselisih paham, bertengkar, dan bermusuhan, lalu saling bunuh, hanya karena hal-hal sepele.
Hanya karena berebut ladang minyak, Amerika yang identik dengan Kristen, menyerang negara-negara Arab yang kaya minyak, yang identik dengan Islam. Lalu, perebutan ladang minyak itu seolah-olah menjadi perang antar agama, perang di jalan Tuhan!
Kemajuan teknologi saat ini telah sangat membantu manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam ataupun mengeksploitasi sesama manusia. Anehnya, manusia masih jauh dari kata damai, ataupun tentram, pikiran mereka masih selalu gelisah.
Seiring dengan semakin tuanya jaman Kali, kemorosotan moral manusia akan semakin bertambah.
Manusia semakin lupa dengan tujuan kehidupannya yang sejati , terbuai sepenuhnya oleh kegiatan guna memuaskan nafsu.
Tuhan akan semakin jauh dari kehidupan manusia, institusi agama hanya dijadikan kedok untuk mencari keuntungan-keuntungan duniawi.
Nilai-nilai spiritual akan semakin ditinggalkan, manusia akan semakin congkak dan merasa tidak membutuhkan keberadaan Tuhan lagi.
Kemajuan bidang teknologi akan disertai dengan semakin lunturnya moralitas manusia, yang saat inipun telah dapat kita lihat dan buktikan sendiri pengaruhnya.

Menurut Bhagavata Purana, setelah berakhirnya masa keemasan gerakan Sankirtan Sri Caitanya Mahaprabhu yang akan berlangsung selama 10.000 tahun mendatang, kemerosotan jaman Kali akan semakin menjadi-jadi.
Sifat-sifat alam yang rendah akan mendominasi, manusia semakin tidak mengenal Tuhan. Orangorang suci, orang-orang yang taat kepada Tuhan akan sangat langka, dan menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat umum, mereka akan disakiti, diburu seperti binatang ditengah kota.
Orang-orang suci terpaksa harus mengasingkan diri ke hutan, bersembunyi dalam goa-goa di pegunungan, atau seolah menghilang dari muka bumi, demi keselamatan diri mereka.
Dalam berbagai bagian kitab Bhagavata Purana disebutkan bahwa dalam situasi yang sudah sangat merosot seperti itu, Tuhan akan menjelma sebagai Kalki avatara. Beliau akan muncul untuk menghancurkan manusia-manusia jahat yang sudah tidak bisa lagi dinasehati lewat kata-kata.

Kemunculan Kalki avatara telah diramalkan dalam banyak kitab-kitab Weda. Dalam Bhagavata Purana (1.3.25) ramalan kemunculan Kalki avatara diuraikan setelah penyebutan ramalan kemunculan Buddha Gautama.

Kalki avatara adalah avatara Tuhan keduapuluh empat atau avatara yang terakhir untuk yuga saat ini. Namun umumnya, orang hanya mengenal 10 avatara utama (dasa avatara) dari dua puluh empat avatara yang diuraikan dalam Bhagavata Purana, dan Kalki adalah avatara Wishnu yang kesepuluh.

athäsau yuga-sandhyäyäà
dasyu-präyeñu räjasu
janitä viñëu-yaçaso
nämnä kalkir jagat-patiù

“Setelah itu, menjelang pergantian
dua yuga (Kali Yuga dan Satya
Yuga), Tuhan Pencipta alam semesta
akan menjelma sebagai Kalki dan
menjadi putra Vishnuyasha. Pada
waktu itu, para penguasa di bumi
ini telah merosot menjadi perampas
semata.”

Selain itu, Bhagavata Purana 12.2.28 menyebut sebuah tempat bernama Shambhala, yang akan menjadi tempat kemunculan Kalki sebagai putra Vishnuyasha.

çambhala-gräma-mukhyasya
brähmaëasya mahätmanaù
bhavane viñëuyaçasaù
kalkiù prädurbhaviñyati

“Tuhan Kalki akan muncul dalam
keluarga seorang brahmana
terkemuka, roh yang mulia bernama
Vishnuyasha, di desa Shambhala”.

Sloka di atas meramalkan tempat kelahiran dan dalam keluarga mana Kalki akan dilahirkan. Beliau akan terlahir dalam keluarga brahmana yang berkualifikasi.

Hal ini berarti bahwa meskipun jaman Kali sedemikian merosotnya, masih akan ada keluarga keturunan brahmana yang mampu bertahan dengan sifat-sifat
kebrahmanaan sejati, yang akan menjadi leluhur atau garis keturunan Kalki.

Meskipun saat ini kita belum tahu pasti di mana keberadaan keluarga brahmana ini, tapi jelaslah bahwa dari keturunan brahmana sejati inilah nantinya Kalki akan dilahirkan.
Saat ini, tak seorangpun yang tahu pasti, di mana desa bernama Shambhala ini berada. Ada yang berpendapat bahwa tempat itu belum ada, ada pula yang beranggapan bahwa desa itu telah ada, namun keberadaannya masih terselubung.

Latar Belakang Munculnya Kalki

Dalam Bhagavata Purana 2.7.38 disebutkan pula ciri-ciri perilaku manusia yang melatarbelakangi kemunculan Kalki.

yarhy älayeñv api satäà na hareù kathäù syuù
päñaëòino dvija-janä våñalä nådeväù
svähä svadhä vañaò iti sma giro na yatra
çästä bhaviñyati kaler bhagavän yugänte

“Pada akhir jaman Kali, ketika tidak ada lagi mata pembicaraan tentang Tuhan, bahkan ditempat tinggal orang-orang yang menyebut dirinya orang suci, ataupun di tempat-tempat orang terhormat dari tiga golongan tertinggi, dan ketika kekuasaan pemerintahan di pindahkan ke tangan-tangan para mentri yang dipilih dari para sudra atau yang lebih rendah dari itu, ketika tata cara pelaksaan korban suci tak diketahui lagi bahkan lewat kata-kata sekalipun, pada waktu itulah, Tuhan akan menjelma menjadi penghukum yang perkasa”.

Menurut Stephen Knapp (2003), dalam Agni Purana (16.7 – 9) juga terdapat penjelasan bahwa pada saat golongan non – aryan yang berkedok sebagai raja mulai membunuhi orang-orang yang taat kepada Tuhan dan menyantap daging manusia, Kalki, sebagai putra Vishnuyasha, dan Yajnavalkya yang merupakan guru dan pendeta bagi Kalki, dan dengan senjata kebrahmanaannya, akan muncul untuk menghancurkan orang-orang jahat.
Kalki akan menegakkan hukum-hukum moral dalam bentuk keempat varna. Setelah itu, masyarakat manusia akan hidup kembali dalam kebajikan.

Bahwa Kalki akan muncul dengan menunggang kuda putih dan bersenjatakan pedang untuk menghancurkan raja-raja yang jahat pada akhir Kali Yuga nanti, dijelaskan dalam Bhagavata Purana (12.2.19-20) sebagai berikut :

açvam äçu-gam äruhya
devadattaà jagat-patiù
asinäsädhu-damanam
añöaiçvarya-guëänvitaù
vicarann äçunä kñauëyäà
hayenäpratima-dyutiù
nåpa-liìga-cchado dasyün
koöiço nihaniñyati

“Kalki, Tuhan bagi alam semesta,
akan mengendarai kuda putihnya yang bernama Devadatta,
dan dengan pedang di tangan,
Beliau mengembara keseluruh muka bumi memperlihatkan delapan jenis kesaktian bhatin-Nya dan delapan sifat ketuhanan yang dimiliki-Nya.
Dengan cahaya yang berkilauan dan mengendari kuda dengan kecepatan
tinggi,
Beliau akan membunuh para pencuri yang telah berani menyamar dan berkedok sebagai raja dan penguasa”
(Bhaktivedanta Swami, 1978).

\


Last edited by goesdun : 21-02-2008 at 11:57 AM.

Reply With Quote

Lihat Juga : http://satriopinandito.wordpress.com/2008/05/01/kalki-avatar-adalah-imam-mahdi-part-2/